After The Rain Part 1

Dear diary, Hari ini ada reuni SMP Harapan Bangsa. Dan tiba-tiba aja aku ingat lagi sama Ardi. Yeah, Ardi si Cinta Pertama itu loh! Dia bakal datang gak ya? Kayak gimana ya dia sekarang? Aku penasaran. Aku harap dia datang. Apa hatiku masih akan berdebar ya kalo ketemu dia?
Rintik-rintik hujan mulai membasahi mobil Veya yang melaju menuju SMP Harapan Bangsa. Dan seiring hujan turun, lalu lintas pun mulai tersendat-sendat. Veya pun akhirnya menyandarkan badannya dan menghela napas, dia terlihat lelah.

Read More

Profil Dewi Lestari

Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee (lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976; umur 35 tahun) adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia.
Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis.

Read More

Cerber Cattelya Part 1

Malam ini aku menantimu, sama seperti malam malam sebelumnya. Duduk sendirian di taman Cattelya. Ditemani indahnya lampu malam yang berwarna warni, cukup menghibur kesendirianku. Aku akan tetap menantimu Carla, sampai kapan juga.
Taman Cattleya begitu berarti buatku. Selain karena aku yang mendesain sendiri taman ini, suatu pertemuan yang tanpa sengaja telah terjadi disini, kamu dan aku. Senyumku semakin berkembang saat mengingatmu.

Read More

Anda Seorang Penyendiri atau Pemalu?

Pernah tahu tentang seseorang yang perlu menyendiri, berjam-jam tiap harinya? Yang gemar mengobrol tentang ide-ide, tentang perasaan? Yang kadang-kadang bisa mempresentasikan sesuatu dengan hebat di hadapan banyak orang, tapi begitu canggung saat berada di kelompok yang lebih kecil?
Apakah kita menjulukinya "orang serius", "sombong" ? atau bertanya kepadanya 'eh, kamu sakit ya'?

Read More

Farhan

Pria itu akhirnya sadar kalau aku mengikutinya dari tadi. Dia berbalik kemudian bertanya padaku. “Kamu ngikutin aku ya?” Aku nyengir sambil melihat buku yang ada di tangannya. “Apa ada yang salah?” Tanyanya lagi.
“Buku itu.” Jawabku sambil menunjuk buku yang ada di tangannya. “Buku ini?” Aku menggangguk. “Boleh nggak aku yang pinjem bukunya? Soalnya, buku itu penting banget untuk menyelesaikan tugasku?” Tanyaku.

Read More
Rating
0 Comments
Kompetisi Puisi

Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawaa oraang lain kedaalam keaadaan hatinya.

Dalam rangka menyambut Hari Peringatan Gerakan 30 September 1965 di Tahun 2011 ini, ada pergelaran sebuah program bertajuk “Teater Sastra”. Lomba ini dapat diikuti oleh semua Masyarakat Indonesia tanpa memandang kelamin, umur, asal-usul, suku, agama, ras, golongan, partai atau basisnya. Ketentuan dan syarat-syaratnya dapat
Anda ikuti seperti:*

Ketentuan Umum
  • Peserta wajib berwarga Negara Indonesia.
  • Naskah Puisi ditulis di kertas A4 dengan font Arial dan margin 3 cm x 3 cm x 3cm x 3 cm.
  • Semua peserta boleh mengirimkan/mendaftarkan lebih dari satu karya (tidak dibatasi).

Tema Puisi Bebas.
  • Naskah puisi dapat ditulis dalam Bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf latin EYD dengan baik dan benar jangan menggunakan tuL!5aN 9auL s3peRt! iN! (membingungkan Dewan Juri dan pembaca)
  • Naskah puisi tidak boleh bersinggungan dengan unsur Sara, Pornografi, dan perundang-undangan yang berlaku.
  • Setiap satu naskah puisi disertai foto copy KTP/SIM/Kartu Pelajar/KartuMahasiswa/Pasport dan satu formulir yang sudah disediakan panitia (terlampir).
  • Naskah diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 30 September 2011.
  • Pengumuman pemenang akan langsung dihubungi oleh panitia melalui email/contact person pemenang.
  • Semua karya yang didaftarkan akan menjadi hak penuh panitia.
  • Peserta dan Dewan Juri serta panitia tidak diperolehkan surat menyurat.
  • Naskah Puisi belum pernah di kirim atau di publikasikan di media manapun.
  • Peserta join di halaman facebook Teater Sastra.

Hadiah

1st: Tabanas Rp. 1.500.000,- dan Sertifikat + Buku Sastra Hati.
2nd: Tabanas Rp. 1.000.000,- dan Sertifikat + Buku Sastra Hati.
3rd: Tabanas Rp. 500.000,- dan Sertifikat + Buku Sastra Hati.
4th: Tabanas Rp. 250.000,- dan Sertifikat.
5th: Tabanas Rp. 100.000,- dan Sertifikat.

Pendaftaran
  • Peserta melakukan pendaftaran senilai Rp. 20.000,- / Naskah. 
  • Pengiriman melalui Bank BNI : a/n : Andika Faris – Nomor rekening: 021 4093732
  • Pendaftaran dilakukan di lembar pendaftaran yang sudah tersedia (terlampir).
  • Pengiriman naskah puisi disertai Struk Transfer Pendaftaran (difoto/scan).
  • Pendaftaran dimulai tanggal 27 Juni 2011 dan ditutup tanggal 30 Nopember 2011 Pukul 23.59 WIB
  • Naskah dan persyaratan terlampir di kirim melaluli email ke: teaterSastra@dr.com

Kriteria Penilaian
  • Keaslian naskah puisi (orisinalitas) yang di ikutsertakan (Anti Plagiat)
  • Pesan dan makna didalam isi naskah puisi.
  • Keindahan dan keterkaitan makna antar kata.
  • Kreativitas dan cara penyampaian isi naskah cerpen.
  • Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Dewan Juri
1. Nana R Susanti.
2. Faryzt Art.
3. I.G. Ardhika.
4. N.M. Purnamasari.

Tali asih
Forum Sastra Hati menyumbangkan 3 buku untuk para pemenang.

Lain-lain

Kompetisi ini bertujuan meningkatkan minat kita terhadap budaya adiluhung
bangsa Indonesia dan sekaligus merangsang kreativitas para sahabat dalam menulis
yang lebih bermanfaat.

Download Formulir Puisi ?»»» http://www.4shared.com/get/Ith1P9Mq/
Formulir_Puisi.html


Deadline: 30 November 2011

Kontes Pepatah

Di sepanjang sejarah kehidupan, selama ini belum pernah membaca atau mendengar informasi adanya penduduk Indoesia yang menulis pepatah baru. Sejak zaman gajah hingga zaman teroris berbasis teknologi sekarang ini belum ada tercetus pepatah baru dari kalangan diantara kita warga Indonesia. jika pun ada, paling juga mereka membuat
pepatah parodi atau plesetan dari pepatah-pepatah yang sudah dibuat para orang-orang pandai dan bijak sebelunya/terdahulu.
Untuk itulah, dalam rangka menyambut Hari Peringatan Gerakan 30 September 1965 di Tahun 2011 ini, ada pergelaran sebuah program bertajuk “Teater Sastra”. Kontes ini dapat diikuti oleh semua Masyarakat Indonesia tanpa memandang kelamin, umur, asal-usul, suku, agama, ras, golongan, partai atau basisnya. Ketentuan dan syarat-syaratnya
dapat Anda ikuti seperti:*

Ketentuan Umum
  • Peserta kompetisi wajib berwarga Negara Indonesia.
  • Pepatah ditulis di kertas A4 dengan font Arial dan margin 3 cm x 3 cm x 3 cm x3 cm.
  • Semua peserta boleh mengirimkan/mendaftarkan lebih dari satu karya (tidak dibatasi).

Tema Pepatah Bebas.
  • Pepataha ditulis dalam Bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf latin EYD dengan baik dan benar. Jangan menggunakan tuL!5aN 9auL s3peRt! iN!.
  • Pepatah tidak boleh bersinggungan dengan unsur Sara, Pornografi, dan perundang-undangan yang berlaku.
  • Setiap satu naskah disertai foto copy KTP/SIM/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/Pasport dan satu formulir yang sudah disediakan panitia (terlampir).
  • Naskah diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 30 September 2011.
  • Pengumuman pemenang akan langsung dihubungi oleh panitia melalui email/
  • contact person pemenang.
  • Semua karya yang didaftarkan akan menjadi hak penuh panitia.
  • Peserta dan Dewan Juri serta panitia tidak diperolehkan surat menyurat.
  • Naskah Pepatah belum pernah di kirim atau di publikasikan di media manapun.
  • Peserta join di halaman facebook Teater Sastra.

Tata cara penulisan.
Pepatah ditulis terlebih dahulu lalu diikuti penjelasan tentang arti/maknanya.

Contoh:
Pepatah: Jangan menghukum buku karena dia meninggalkan koper
Arti/Makna : Jangan salahkan diri anda jika wajah anda jelek, tetapi salahkanlah
orang tua anda, karena jelek itu keturunan dari mereka.
Mudah bukaaan….!!! Silahkan berimajinasi…!!!

Hadiah

1st: Tabanas Rp. 1.500.000,- dan Sertifikat.
2nd: Tabanas Rp. 1.000.000,- dan Sertifikat.
rd3: Tabanas Rp. 500.000,- dan Sertifikat.
3 Nominasi terbaik: Uang pembinaan Rp. 100.000,-

Pendaftaran
  • Peserta melakukan pendaftaran senilai Rp. 20.000,- / Naskah.
  • Pengiriman ke Bank BNI : a/n : Andika Faris – Nomor rekening: 021 409 3732
  • Pendaftaran dilakukan di lembar pendaftaran yang sudah tersedia (terlampir).
  • Pengiriman Naskah disertai Struk Transfer Pendaftaran (difoto/scan).
  • Pendaftaran dimulai tanggal 27 Juni 2011 dan ditutup tanggal 30Nopember 2011 Pukul 23.59 WIB
  • Naskah dan persyaratan terlampir di kirim melaluli email ke: teaterSastra@dr.com

Kriteria Penilaian
  • Keaslian Pepatah (orisinalitas) yang di ikutsertakan (Anti Plagiat)
  • Ke-abadian/Long lasting. Pepatah berbunyi : ” Guru hobi ngeblog muridnya pun maniak ngeblog “, mungkin tidak akan lestari karena ngeblog juga bisa bosan.
  • Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Dewan Juri

1. Rombi Hidayanto Baskoro.
2. Moh. Saiful Hidayat.
3. Yuniar Zahwa LD.
4. Rr. Rini Puji Astutik.
Tali asih

Manajemen Sanggar Ronggosukowati menyiapkan paling sedikit 5 buah tali asih untuk 5 orang peserta.
Penulis Muda Indonesia.
Forum Sastra Hati juga akan menyumbangkan beberapa buku untuk tali asih.
Lain-lain
Kompetisi ini bertujuan meningkatkan minat kita terhadap budaya adiluhung bangsa Indonesia dan sekaligus merangsang kreativitas para sahabat dalam menulis yang lebih bermanfaat.

Download Formulir Pepatah ?»»» http://www.4shared.com/get/kS3b0oAJ/
Formulir_Pepatah.html
Info : 0838 5282 9292 – http://www.pepatah.co.cc/
Email : teaterSastra@dr.com

Lomba Cerpen

Dalam rangka menyambut Hari Peringatan Gerakan 30 September 1965 di Tahun 2011
ini, Teater Sastra mengadakan pergelaran sebuah program bertajuk “Teater Sastra”.
Lomba ini dapat diikuti oleh semua Masyarakat Indonesia tanpa memandang kelamin,
umur, asal-usul, suku, agama, ras, golongan, partai atau basisnya. Ketentuan dan
syarat-syaratnya dapat Anda ikuti seperti:*

Ketentuan Umum
  • Peserta wajib berwarga Negara Indonesia.
  • Naskah Cerpen ditulis di kertas A4 dengan font Arial dan margin 3 cm x 3 cm x3 cm x 3 cm.
  • Semua peserta boleh mengirimkan/mendaftarkan lebih dari satu karya (tidak dibatasi).
  • Tema Cerpen Bebas.
  • Naskah Cerpen dapat ditulis dalam Bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf latin EYD dengan baik dan benar atau dengan Bahasa sehari-hari namun jangan menggunakan tuL!5aN 9auL s3peRt! iN! (membingungkan Dewan Juri)
  • Naskah Cerpen tidak boleh bersinggungan dengan unsur Sara, Pornografi, dan perundang-undangan yang berlaku.
  • Setiap satu naskah cerpen disertai foto copy KTP/SIM/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/Pasport dan satu formulir yang sudah disediakan panitia (terlampir).
  • Naskah diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 30 September 2011.
  • Pengumuman pemenang akan langsung dihubungi oleh panitia melalui email/contact person pemenang.
  • Semua karya yang didaftarkan akan menjadi hak penuh panitia.
  • Peserta dan Dewan Juri serta panitia tidak diperolehkan surat menyurat.
  • Naskah cerpen belum pernah di kirim atau di publikasikan di media manapun.
  • Peserta join di halaman facebook Teater Sastra.

Hadiah
  • 1st: Tabanas Rp. 1.500.000,- dan Sertifikat + 100 Buku Sastra Indonesia.
  • 2nd: Tabanas Rp. 1.000.000,- dan Sertifikat + 100 Buku Sastra Indonesia.
  • 3rd: Tabanas Rp. 500.000,- dan Sertifikat + 100 Buku Sastra Indonesia.
  • 4th: Tabanas Rp. 250.000,- dan Sertifikat.
  • 5th: Tabanas Rp. 100.000,- dan Sertifikat.

Pendaftaran
  • Peserta melakukan pendaftaran senilai Rp. 20.000,- / Naskah.
  •  
  • Pengiriman melalui Bank BNI : a/n : Andika Faris – Nomor rekening: 021 4093732
  • Pendaftaran dilakukan di lembar pendaftaran yang sudah tersedia (terlampir).
  • Pengiriman Naskah disertai Struk Transfer Pendaftaran (difoto/scan).
  • Pendaftaran dimulai tanggal 27 Juni 2011 dan ditutup tanggal 30Nopember 2011 Pukul 23.59 WIB
  • Naskah dan persyaratan terlampir di kirim melaluli email ke: teaterSastra@dr.com

Kriteria Penilaian
  • Keaslian naskah cerpen (orisinalitas) yang di ikutsertakan (Anti Plagiat)
  • Pesan didalam isi naskah cerpen.
  • Kreativitas dan cara penyampaian isi naskah cerpen.
  • Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Dewan Juri
1. Ruslan Manaf.
2. Yuniar Zahwa LD.
3. I.G. Ardhika.
4. Rr. Rini Puji Astutik.

Tali asih
Manajemen Sanggar Ronggosukowati menyiapkan paling sedikit 3 buah tali asih untuk 3 orang peserta.
Forum Sastra Hati juga akan menyumbangkan beberapa buku untuk tali asih.

Lain-lain
Kompetisi ini bertujuan meningkatkan minat kita terhadap budaya adiluhung bangsa Indonesia dan sekaligus merangsang kreativitas para sahabat dalam menulis yang lebih bermanfaat.

Download Formulir Cerpen ?»»» http://www.4shared.com/get/iF-BqSq6/
Formulir_Cerpen.html
Info : 0838 5282 9292 – http://www.pepatah.co.cc/
Email : teaterSastra@dr.com

Rating
0 Comments
By: Petra Shandi


Tiga hari telah berlalu. Jenuh rasanya berada di rumah sendirian sementara ibu bekerja diluar sana.
Ting Tong....
Terdengar bel pintu rumah berbunyi.   siapa ya yang datang? Kucoba bangkit dari ranjang lalu menuju ruang tamu.  Kubuka pintu besar ini dan nampak wajah Naya dan Donna.
"Wah akhirnya ada juga yang jenguk aku"  kataku sumringah  "Ayo masuk.."  aku menyilahkan mereka masuk ke dalam.
"Owh.. kamu sakit? " tanya Naya saat duduk di sofa, "Kenapa nggak kasih tau ke sekolah?  Aku kira kamu sedang liburan," canda Naya
Aku hanya tertawa." Iya,aku liburan di ranjangku."
"Sorry aku gak bawa buah buahan." 
"Gak apa apa, dijenguk saja aku sudah senang kok," jawabku.
"Kamu sakit apa Az? " Akhirnya Donna berbicara.
"Hm, biasalah, kecapean kali ya?"
Aku curi curi pandang dengan gadis ini, dia manis sekali.
"Oh iya, Nael sudah kesini belum?" tanya Naya
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Loh... padahal dari hari senin aku sudah suruh dia nemuin kamu" Naya terheran heran  "Ada apa sih sama kalian berdua?" kini dia mulai curiga
"Apa? gak ada apa apa kok," kataku tenang.
"Aneh aja, biasanya kalian pasti bertemu satiap hari." 
"Lah iyalah, mau ketemu gimana? dia di sekolah aku dirumah.   ya gak bisa ketemu." Aku hanya tertawa
"Bukan begitu, biasanya kan kalo pulang sekolah dia suka maen ke rumah  kamu.." Naya masih terheran heran
"Ah, kamu ini mau jenguk ato interogasi aku sih?" candaku
Naya tersenyum malu.." sorry ya.."
Aku tersenyum kemudian memperhatikan Donna ." Apa kabar Donna?" sapaku
Donna tersenyum
"Baik . itu saja ucapannya
"Aku sengaja ajak dia, soalnya aku ngerasa ada yang kangen kangen ma kamu.." Rupanya Naya sedang berusaha jodohkan aku dengan Donna
Donna menyenggol badan ke Naya..."Apa apaan sih...?" ujarnya malu-malu.
Aku hanya tersenyum.   "Ada ada saja," komentarku
"Oh iya, baru ingat.. kamu dapet salam dari Eka, temanku.."Aku tersentak kaget.
"Hm.. tadi dia SMS.." aku berusaha tenang "Ngomong ngomong kamu kasih nomorku ke dia ya?" tanyaku hati hati
"Iya.. soalnya dia yang minta.."jawab Naya tanpa merasa bersalah
Aku hanya menganggukan kepala.
"Selama tiga hari ini kelakuan Nael aneh," kembali Naya membuka percakapan.
"Aneh? " tanyaku heran
"Yah.. dia begitu nggak bersemangat di sekolah, gak latihan basket lagi, bahkan tiap pulang sekolah dia gak mau antar aku pulang.   Katanya dia minta waktu buat sendirian, lagi suntuk katanya.." terang Naya.
Hm.. rupanya dia masih memikirkan kejadian itu.
"Kenapa si Az? kok aku gak kenal Nael yang satu ini.."
Aku hanya menundukan kepala.." Tidak tau.."
"Mungkin dia punya pacar baru kali ya? " 
"Nggak..! " bantahku.." Dia nggak mungkin pacaran sama orang lain, cuma kamu aja yang dia sayang.." terangku.." Sabar aja, mungkin dia sedang ada masalah.." nasehatku.
Naya tersenyum.."Mungkin  kayak gitu."  Dia berusaha menghibur diri. Saat mereka pulang aku menitipkan surat izin untuk guruku, siapa tahu besok aku belum bisa masuk sekolah.
Sepeninggal mereka aku kembali teringat Nael,ternyata dia masih memikirkan kejadian itu.   Kuraih HP di meja belajar dan kucoba menghubungi pemuda itu.   Hm.. sia sia..,dia selalu menolak panggilanku,apa sebaiknya aku SMS saja?

'Nael, lu mau gak dateng ke rumah gue sebentar.gue  mau jelasin semuanya. 
Plis kasih gue kesempatan buat luruskan masalah ini'
Ah, semoga dia membaca pesanku....
***

Hari ini sudah hari Kamis, tapi aku belum juga masuk sekolah.   Sebenarnya sakitku sudah berangsur pulih, hanya saja badan ini masih terasa lemas.   kalau kupaksakan aku khawatir nanti di sekolah malah merepotkan teman temanku.   Bosan sekali rasanya hanya berdiam diri di rumah.   Aku kangen sekolah,kawan kawan, nongkrong di Warnet dan tentu saja Nael..Ah.. walaupun aku sudah kembali ke sekolah  rasanya sudah tidak mungkin bisa berkawan lagi dengan anak itu.  Benarkah menjadi seorang Gay itu hina? sampai mereka tidak bisa menerima keadaan ini?   Mereka tidak sadar kalau ini adalah ujian Tuhan, kalau saja mereka mengalami seperti apa yang kualami. Sedih rasanya...
Nael... apa perlu aku menghubungi dia lagi? setelah berkali kali kucoba namun terus gagal?   Aku lelah namun ini harus terus diperjuangkan.   Nael harus jadi temanku..! ini bukan karena obsesi ku  untuk mencintainya, tapi karena dia sahabatku.   Sahabat lebih dari segalanya.  Kata kataku seperti omong kosong, tapi entahlah aku juga tidak tahu...
Bunyi Handphone membuyarkan lamunanku.. 
"Halo?" katanya..
Rasanya pernah dengar suara ini.."Yup, ini siapa ya?" Aku penasaran
"Ini Eka.."
Yaahh.. anak ini lagi.. ! "Hai, apa kabar?" Aku berpura pura ramah.
"Dengar dengar elu sakit ya?"
Pasti Naya cerita lagi."Iya , tapi sudah sembuh kok.."
"Oh gitu ya? " komentarnya.."Kalo begitu boleh dong gue maen ke rumah elu , itung itung jenguk.." tambahnya.
Haaa!!!
"Emang tau rumah gue?"
"Hm.. sebenarnya, gue udah ada di depan rumah elu.."
Dhuuaaar..! jantungku meledak keras sekali.   Ngapain dia dia ganggu aku terus!!!
"Ha...!!" aku tidak bisa berkata kata.
"Elu kaget ya?" anak itu malah tertawa." buka gih pintunya, " katanya.
Sialan!! elu belum puas ya bikin gue kesal!!, batinku
Aku membuka pintu dan nampak disana seorang lelaki ganteng dengan membawa keranjang berisi buah buahan.. 
"Hi.." sapanya
Aku tersenyum walaupun dipaksa.. "Pasti Naya yang  beri tahu alamat rumahku," tebakku
"Iya.." ucapnya manis.
Aku mempersilahkan lelaki itu masuk ke dalam rumah."Duuh.. merepotkan nih, padahal gue udah baikan kok.." kataku sambil menerima keranjang buah yang dia sodorkan kepadaku.
"Ya.. gue bisa lihat.." katanya.."Cuma elu butuh makan buah buahan biar tambah seger.." tambahnya
kami berbincang santai..
"Ka.. sorry ya soal malam itu, gue kasar banget sama elu.."
"Udah gak apa apa, lagian gue juga sih yang bikin ulah,sok tahu nilai elu." 
Aku hanya tersenyum
"Kok elu santai santai aja sih?" tanyaku pelan..
"Hah? santai apa? " Eka tidak mengerti maksud pertanyaanku
"Hm,elu kelihatan menikmati  banget hidup kayak gini.Apa semua orang udah tau soal keadaan elu?" 
"Oh.. itu.." lelaki itu mulai mengerti arah pembicaraanku"Semua orang sudah tau gue gay."
"Terus orang tua elu?" selidikku..
Lelaki itu menganggukkan kepalanya.
kami terdiam.. Aku tidak tahu topik apa yang harus dibicarakan.
"Elu mau omongin masalah ini? " Ucapan Eka memecahkan keheningan."Gue emang baru kenal elu beberapa hari yang lalu, tapi gak tau kenapa gue seperti sudah mengenal elu," terangnya."Itu karena elu senasib sama gue," ucapnya pelan
Aku memejamkan mata, terasa sakit mendengar ucapannya.  "Elu gak merasa minder atau apalah dengan kondisi seperti ini? "
Lelaki itu menghembuskan nafasnya dalam dalam."Iyaa... gue emang sedih.   Cuma, kalo difikir fikir  buat apa gue harus meratapi nasib ? yang ada malah menghalangi semua keinginan dan cita-cita gue.   Gue percaya hidup gue sudah diatur sedemikian rupa  sama yang diatas dan kita tinggal jalani sebaik baiknya.   Tuhan adil kok sama semua umatnya,gue percaya survive suatu hari nanti." 
Lelaki itu menatapku dengan tulus, sinar matanya meneduhkan hatiku.   Tidak..! tidak!! aku gak boleh jatuh cinta sama dia!!.   Aku hanya terpesona.
"Hm.. Nael membenciku..."  Tiba tiba kata itu terucap..
"Nael..? pacar Naya?" 
Aku menganggukan kepala.  "Waktu itu gue kehilangan kendali,” kutelan ludahku.."Gue..gue  mencium dia saat tidur.."
Eka tersentak kaget.. 
Aku hanya menunduk , tidak lama kemudian air mataku tidak bisa terbendung lagi.
Eka menghampiri dan mendekapku erat.   Entah kenapa dalam dekapannya semua beban itu menjadi lebih ringan.
***
Aku menghela nafas panjang saat berada di depan gedung sekolah.   Kucoba melangkahkan kakiku perlahan, kuseimbangkan dengan kondisi hatiku yang gelisah luar biasa.   Ahhh.. sudahlah mau tidak mau aku harus bisa menghadapi Nael,maka kumantapkan langkahku.
Kini aku telah berada di dalam kelasku.    Kulihat Nael dijajaran  meja paling depan.   Secara tidak sengaja dia melihatku, raut wajahnya tiba tiba berubah, dia menundukan kepalanya.
Dengan hati yang tidak karuan kuhampiri lelaki itu, kucoba menyapanya..
"Elu jangan duduk di meja ini..!" belum sempat kusapa dia malah yang memulai
"Sampai kapan elu marah ke gue? " kataku.. Aku malah menyimpan tasku di mejanya.
lelaki itu tidak menjawab hanya pergi begitu saja sambil membawa tasnya ke meja paling belakang.
Dengan keberanianku yang tidak seberapa kulangkahkan kakiku  ke meja belakang."Sikap elu bener bener nyakitin gue Nael," kataku pelan..
"Elu fikir gue gak sakit akibat perbuatan elu??!!"  teriaknya. Aku tersentak kaget begitu pula anak anak lain seisi kelas.
Merasa jadi pusat perhatian, Nael bergegas lari keluar kelas sambil membawa tas nya. 
Kukejar lelaki itu.. "Nael..!! tunggu!! "  Namun Nael berlari begitu cepat hingga aku tidak bisa mengejarnya lagi.   Lelaki itu semakin jauh dari pandanganku.
Sore hari sepulang sekolah aku mencoba mencari Nael.  Pertengkaran tadi pagi membuat Nael bolos sekolah.  Aku cari dia di rumahnya, dia tidak ada.  Kemana dia? aku berfikir keras.
Owh.. aku tahu..! aku berlari menuju lapangan basket di sekitar rumahnya.Benar juga.. Aku lihat Nael sedang sibuk bermain basket sendirian berusaha memasukkan bola berulang-ulang,berlari memainkan bola basketnya.  Tidak peduli hujan turun begitu deras, dia tetap bermain.
Kuhampiri  lelaki itu.. semangatku untuk bicara padanya begitu tinggi, aku siap dicaci maki asal dia mau memaafkan aku.
Nael tidak menyadari aku ada di hadapannya, dia masih asyik dengan bolanya, semua emosinya terluap disana.   "Ada apa lagi, Az...? "  Rupanya dia tahu aku ada disana
Aku mneghampiri
"Jangan mendekat..! " teriaknya.
"Gue harus bagaimana buat menebus kesalahan gue!!?? " teriakku, aku terus mendekat tidak peduli dengan peringatannya.
Buuk.....!!! satu pukulan mengenai pipiku begitu keras hingga terjatuh ke tanah.
tatapannya tajam dengan nafas yang menggebu gebu 
Aku berusaha bangkit kuhampiri lagi lelaki itu.   Aku pukul balas Nael tepat di hidungnya.  Pukulan ku cukup keras , mampu membuat dia terjatuh ke tanah.  "Ok... ! elu mau cara begini?? gue siap hadapi elu....!"
Kami berkelahi ditengah derasnya hujan .  Entah kenapa aku meladeni keinginan Nael untuk berkelahi, ini hanya semata untuk mempertahankan Harga diriku.
Akhirnya kami terkulai jatuh di tanah.. "Puas? ini yang elu mau??" kataku pelan.
Kami terdiam
"Gue gak sanggup lagi Az..." Sesaat kemudian akhirnya dia berkata."Sudah berbagai cara gue lakukan untuk menghilangkan sifat elu itu," katanya
Aku terkejut, jadi selama ini...?
"Iya, gue tahu elu sakit." Seolah olah dia tau keterkejutanku.."Gue cuma pingin berusaha menjadikan elu lelaki sebenarnya.  Gue sudah berusaha kenalkan elu ke temen- temen cewek gue, bahkan gue minta bantuan Naya  untuk mengenalkan Donna ke elu.."
Aku terdiam  terpaku tidak bereaksi dengan ucapannya, hanya saja hatiku sangat sakit.
"Dan sekarang tanpa gue sadari elu malah melampiaskan emosi elu ke gue??" katanya.."Gue sahabat eluu!!!!" teriaknya..."Gue gak mau elu jadi Gay dan gue gak mau ikut ikutan jadi Gay," katanya pelan
Aku masih terdiam
"Hm.. sorry kata kata gue nyakitin elu," katanya. "Tapi, ternyata gue gak cukup baik buat jadi sahabat elu."
"Segitu beratkah elu berkawan dengan seorang gay kayak gue? gue juga manusia Nael," kataku parau.. "Dan tentunya gue tidak akan menjadikan elu gay," tambahku
"Sudahlah , Az.. " Nael menahan kata kataku..."Gue udah capek..." tambahnya, lalu dia bangkit. "Plis jangan ganggu gue lagi." Ucapan itu mungkin kata kata terakhirnya padaku.
Lelaki itu melangkah jauh meninggalkan aku yang masih terbaring lemah di tanah...

***

Mungkin itulah akhir  dari kisah persahabatan aku dengan Nael.   Kita sudah tidak seperti dulu.   Walaupun aku masih tegur sapa dan bercanda dengannya, tapi semuanya berbeda.    Nael lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman yang lain.   Aaah, sudahlah , mungkin ini jalan terbaik buat aku dengan Nael.   Dua orang yang berbeda memang sulit disatukan.   kadang aku berfikir , memang ada sahabat sejati di muka bumi ini? yang aku tahu justru sebaliknya.    Sahabat sahabat yang kita anggap sejati lambat laun akan menjauh seiring waktu yang berjalan.
Bagaimana dengan Donna? Hm, aku sempat dekat dengannya selama beberapa minggu.   Dia memang menyukai aku, namun rasanya tidak adil kalau aku terus menyembuyikan perasaan yang sebenarnya, sementara ada orang lain yang mengharapkan aku.   Dan akhirnya  Donna pun mengerti saat aku katakan tidak mungkin aku jadikan dia pacarku.
Lalu bagaimana dengan Eka?   Rupanya Tuhan kasihan sama aku,makanya dia mengirim Eka , untuk menjadi  sahabat karibku.   Rasanya lebih nyaman berteman dengannya, mungkin karena kami sama dan lebih mengerti dengan keadaan seperti ini yang mungkin tidak mudah dipahami oleh mereka yang normal.
Bagaimana pun aku tidak pernah melupakan Nael dan aku pun yakin dia tidak pernah melupakan aku.

***
Rating
0 Comments
By: Petra Shandi


Tidak disangka rupanya aku tertidur di atas sajadah hingga akhrinya ibu yang membangunkanku.
"Az.. bangun, kok kamu tidur disini sih?"  Kata ibuku.
Kubuka mata perlahan , nampak wajah ibu yang belum bisa kulihat dengan jelas.   Kugesek mataku, kimi nampak dengan jelas wajah ibu.  "Iya bu.. aku ketiduran" kataku.
"Tunggu.. ini kenapa pipimu bengkak?” rupanya ibu bisa melihat pipi bengkakku.  "Perasaan tadi malam ibu nggak melihatnya,"katanya heran.
"Ah  ibu, tadi malam kan ibu melihatku dalam keadaan setengah tidur" Kucoba berbohong.
"Masa sih?" Ibu masih tidak percaya.  "Kemaren kamu berantem? " Ibuku makin penasaran.
"Nggak Ibu... ! " jawabku tegas."Aku tuh cuma jatuh terbentur tembok waktu di rumah Naya." Moga alasanku masuk akal
"Masa cuma terbentur sampe bengkak kayak gini?" Masih terheran-heran  "Ya sudah sini ibu kompres," tambahnya.
"Biar aku sendiri," kataku
"Loh.. kok badan kamu jadi panas kayak gini sih?" Ibu semakin khawatir saat menyentuh jidatku.
"Masa sih bu? " Aku ikut menempelkan tangan ke jidatku."Hm.. Kecapean kali bu,"komentarku.
"Duh, kok bisa sih??" kata ibu.."Ibu gak tau apa yang terjadi semalam, tapi kenapa kamu bisa jadi sakit kayak gini? pipi bengkak, wajah pucat, terus badan panas juga." Ucapan ibuku terasa panjang sekali.
"Sudahlah bu, aku gak apa apa," kataku tegas."Aku cuma butuh istirahat." Aku tersenyum manis sekedar buat ibuku tenang.
Ibu ku terdiam."Ya sudah, sekarang kamu sarapan, minum obat  terus istirahat lagi ya?"perintah ibu
"Iya," jawabku pendek
"Ibu tersenyum tanda puas,"Eh Nael mana?" Ibu mulai ingat kalo ada Nael bersamaku tadi malam.
"Hm.. dia pulang tadi subuh.." jawabku
"Loh, pagi sekali?"
Aku hanya terdiam
Selesai sarapan, aku kembali ke ranjang.   Masih aku memikirkan kejadian semalam.  Kuraih Handphone , kucoba hubungi dia lagi.  Namun, lagi lagi dia menolak panggilanku.  Kini dia malah meng non aktifkan Handphone nya.
***
Tok.. Tok..
Seseorang mengetuk pintu kamarku..
" Buka," kataku pelan
Saat pintu dibuka, nampak Nael.  Pemuda itu nampak kusut, mungkin dia terus memikirkan kejadian semalam sehingga tidak mempedulikan keadaan dirinya.  Aku tidak bisa berkata apa apa, dalam diamku ini aku berharap dia mengerti betapa menyesalnya aku.
"Elu sakit ? "  tanya Nael
Pemuda itu menghampiriku pelan-pelan.
"Yah... cuma pusing sedikit,"bibirku tersungging manis, senang rasanya dia datang.
"Aneh,seharusnya gue yang sakit." Ucapan sinis itu mengejutkan aku."Semalam gue elu lecehkan,seharusnya gue kan yang sakit?" tambahnya.
Perih sekali hatiku saat dia bicara begitu.."Nael, please maafin gue.." Aku memelas "Gue mohon lupain kejadian tadi malam."
"Lupain??" Nael terheran-heran "Mana bisa gue lupain gitu aja??bisa-bisa gue bakal terus elu manfaatin!!" tambahnya
"Nggak!! " tegasku. ”Gue janji semalam adalah terakhir," janjiku
Nael hanya tersenyum sinis."Hm,mana mau gue berteman sama homo seperti elu.   Bisa bisa reputasi gue ikut ikutan jelek" Ucapannya itu benar benar membuat telingaku panas.  "Barusan gue udah sebarin ke temen temen tentang ke Homo-an elu itu,"  tambahnya.
Aku sangat terkejut.  "Elu.. Elu tega sekali..!" remuk sekali hatiku saat dia bilang begitu.
"Ini belum seberapa,kemarahan gue akan terbalas setelah gue bilang hal ini ke ibu elu," katanya
Aku semakin panik."Gue mohon  jangan lakuin itu!    Elu boleh benci gue tapi jangan katakan ini ke ibu gue .. gue mohon Nael." Aku memohon mohon
Nael hanya tersenyum sinis.. "Gue bakal bilang sekarang juga," ujarnya, lalu pergi keluar dari kamarku.
"Jangaaaaannn!!!!" teriakku..
***

Aku terbangun dari ranjang.  Kuperhatikan sekelilingku,tidak ada siapa-siapa disini.   Jantungku berdetak kencang sekali , bisa kurasakan keringat mengucur di wajahku.   Kuremas remas rambut dikepalaku menahan pusing ini.  Ya Allah, itu hanya mimpi.
Handphone-ku berbunyi.. terdapat satu pesan SMS disana, tapi aku tidak mengenal nomor ini.
'Hi  Diaz, ini Eka cuma mau bilang say Helo. Ini nomor gue , elu Save ya? '
Sial! siapa yang memberi nomor Handphoneku padanya?  Aku tidak akan membalasnya, biar dia berfikir SMS ini tidak pernah sampai kepadaku.
Senin pagi,terasa sekali udara segar di luar sana.  Seandainya saja aku sudah merasa baikan, mungkin saat ini aku sedang bersiap siap pergi ke sekolah.  Tapi sayang, kondisi badanku belum berangsur pulih.  Kepalaku masih pusing dan perut terasa mual.   Setiap kali kucoba untuk makan selalu saja kumuntahkan.
"Aneh.. biasanya jam segini Nael sudah jemput kamu..kok sudah jam 7 dia belum datang juga?" komentar ibuku.
"Emangnya mau apa nungguin dia?" tanyaku
"Ibu mau nitip surat izin sakitmu ini buat gurumu." 
"Dia gak bakal datang," kataku lirih.
Rencananya hari ini ibu akan mengantarku ke dokter.  Ibu sangat khawatir dengan kondisiku, karena ternyata sampai saat ini kondisiku belum juga membaik.
Ibu menghampiri sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur , sup ayam dan segelas air.
"Nih,kamu habiskan ya sarapannya," katanya.
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Ayolah coba, dari kemarin gak ada sedikitpun makanan yang masuk" Ibuku resah.
"Ibu, aku gak bisa makannya,perut aku sakit.   Kalo dipaksa juga  pasti bakal kumuntahkan lagi."
Ibu hanya memandangku sedih.
"Kamu kenapa sih?sampai sakit kayak gini?" katanya sambil menempelkan jemarinya ke dahiku." bu khawatir tau?, mana dari kemarin panas kamu belum juga turun," suaranya begitu ketakutan.
"Ibu tenang aja, nanti di rumah sakit aku kan diperiksa,paling cuma sakit biasa.  tiga hari lagi pasti sembuh kok." Kucoba menenangkan ibu.
Ibu tersenyum, lalu membelai rambutku."Cuma kamu yang ibu punya," katanya pelan.
Kami berdua terdiam. Aku jadi teringat Ayah. Seandainya Ayah masih hidup mungkin ibu tidak akan kesepian seperti sekarang ini.  Aku merasakan beban yang dipikul ibu.  Dia harus banting tulang untuk kehidupan kami dan biaya sekolahku.  Sedih rasanya kalau kuingat saat saat terakhir menjelang kepergian Ayah.  Aku janji pada ibu , aku akan bahagiakan ibu.  Seperti ayah yang selalu membahagiakan ibu.
"Udah cukup melamunnya." Ucapan ibu membuatku tersadar kembali...
"Aku tersenyum.. "Ibu kangen Ayah?"tiba tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Selalu.." ucapnya mantap."Tapi ibu punya penawarnya, kalau ibu kangen sama ayah, ibu cukup memandang wajah kamu," ujarnya manis
Aku tersenyum lalu memegang erat jemari ibu."Aku kangen sama Ayah , bu"  aku berusaha tersenyum, tapi rupanya ibu tahu aku ingin menangis.  Ibu langsung memelukku dengan erat.
"Ayah akan selalu ada di hati kita, asal kamu selalu mengenang beliau.  Jangan anggap beliau tidak ada." Ibu mencoba menenangkanku.
Sementara aku terus menangis....
***
Saat ini aku sudah di Rumah Sakit.   Sang dokter kini  memeriksaku, sementara ibu terus memperhatikan dengan seksama. 
Setelah beberapa saat..
"Bagaimana dok? " Ibuku tidak sabaran
Sang dokter terdiam sejenak, lalu melepaskan kaca matanya."Kamu cuma kecapean aja , kondisi kamu sedang tidak bagus, terangnya padaku."
Dokter ini memberiku resep obat untuk aku minum...
Kini ibuku mulai lega.
"Nah, sekarang ibu lega kan? aku cuma sakit biasa,cukup istirahat langsung sembuh" ujarku
Ibuku tersenyum"Iya, ibu sudah tenang," katanya sambil memegang pipiku."Cuma, ibu penasaran, kamu punya masalah apa sih? sampe sampe jadi ambruk kayak gini?" Pertanyaan ibuku membuatku terdiam.
"Diaz..! ibu tanya kok kamu malah ngelamun," kata ibu
"Ah ibu, mau tau aja urusan anak muda" alasanku
"Bukannya gitu, gak apa apa dong ibu tau.   Cuma mau tau aja, gak bakal ikut campur,"terang ibu
Aku tetap tutup mulut.
"Ya sudah kalau tidak mau cerita, tapi jangan terlalu difikirkan ya?  kamu harus sehat dulu,"  nasehat ibuku sambil menyiapkan obat obat yang tadi dibeli di apotik.  "Nih, kamu  minum obatnya,"  ujar ibu seraya menyerahkan butiran pil untuk aku minum.
"Oh iya, kamu bisa gak telepon Nael buat kesini? Ibu mau titip surat buat gurumu." Ucapan ibu membuatku tersedak.
Aku terbatuk-batuk sementara ibu menenangkanku.
"Pelan-pelan dong minumnya.."kata ibuku.
"Buat apa sih manggil dia?" ujarku ketus.
"Loh kok?? " ibuku terheran heran.."bukannya dia sahabat kamu?  masa gak boleh suruh dia dateng kesini?"
"Sudahlah bu, nanti suratnya aku kasih pas aku masuk sekolah aja" alasanku
Ibuku mulai berfikir, "Hm.. ibu ngerti sekarang, kamu lagi ada masalah sama Nael? " Tebak ibuku." pantes kemaren dia pulang pagi pagi sekali." Komentarnya.
"Bukan.. bukan itu masalahnya! " kataku tegas
"Gak usah boong, " kata ibuku.."Hm.. kayaknya masalah cewek ya? " goda ibuku
Aku hanya geleng geleng kepala.
"Ah.. kalian ini , masalah perempuan saja diributkan.   emang perempuan cuma satu?" Ujar ibu lalu meninggalkanku
Ah.. biar saja ibuku menganggapnya begitu.  Dengan begitu ibu tidak akan terus terusan  mempertanyakan masalahku .