After The Rain Part 1
Dear diary,
Hari ini ada reuni SMP Harapan Bangsa. Dan tiba-tiba aja aku ingat lagi sama Ardi. Yeah, Ardi si Cinta Pertama itu loh! Dia bakal datang gak ya? Kayak gimana ya dia sekarang? Aku penasaran. Aku harap dia datang. Apa hatiku masih akan berdebar ya kalo ketemu dia?
Rintik-rintik hujan mulai membasahi mobil Veya yang melaju menuju SMP Harapan Bangsa. Dan seiring hujan turun, lalu lintas pun mulai tersendat-sendat. Veya pun akhirnya menyandarkan badannya dan menghela napas, dia terlihat lelah.
Profil Dewi Lestari
Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee (lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976; umur 35 tahun) adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia.
Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis.
Cerber Cattelya Part 1
Malam ini aku menantimu, sama seperti malam malam sebelumnya. Duduk sendirian di taman Cattelya. Ditemani indahnya lampu malam yang berwarna warni, cukup menghibur kesendirianku. Aku akan tetap menantimu Carla, sampai kapan juga.
Taman Cattleya begitu berarti buatku. Selain karena aku yang mendesain sendiri taman ini, suatu pertemuan yang tanpa sengaja telah terjadi disini, kamu dan aku. Senyumku semakin berkembang saat mengingatmu.
Anda Seorang Penyendiri atau Pemalu?
Pernah tahu tentang seseorang yang perlu menyendiri, berjam-jam tiap harinya? Yang gemar mengobrol tentang ide-ide, tentang perasaan? Yang kadang-kadang bisa mempresentasikan sesuatu dengan hebat di hadapan banyak orang, tapi begitu canggung saat berada di kelompok yang lebih kecil?
Apakah kita menjulukinya "orang serius", "sombong" ? atau bertanya kepadanya 'eh, kamu sakit ya'?
Farhan
Pria itu akhirnya sadar kalau aku mengikutinya dari tadi. Dia berbalik kemudian bertanya padaku.
“Kamu ngikutin aku ya?”
Aku nyengir sambil melihat buku yang ada di tangannya.
“Apa ada yang salah?” Tanyanya lagi.
“Buku itu.” Jawabku sambil menunjuk buku yang ada di tangannya.
“Buku ini?”
Aku menggangguk.
“Boleh nggak aku yang pinjem bukunya? Soalnya, buku itu penting banget untuk menyelesaikan tugasku?” Tanyaku.
Total Pengunjung
Labels
blogRoll
-
-
Diskriminasi Fisik itu masih ada!6 tahun yang lalu
-
MELAMPAUI MIMPI11 tahun yang lalu
-
Cetak Buku Murah Proses Cepat Kualitas Mantap13 tahun yang lalu
-
Pameran Buku Juni 2012: Mimpi Kinanti14 tahun yang lalu
-
Lomba Menulis Novel Inspiratif14 tahun yang lalu
-
Estafet Poetry 04 April 201214 tahun yang lalu
-
CCKS_Yazmin Aisyah14 tahun yang lalu
-
Bundaku Sayang14 tahun yang lalu
-
Figura Kematian by Sherlly Ken Anaqah Hamidah14 tahun yang lalu
-
50 PUISI YANG LOLOS DALAM UNDANGAN SEPTEMBER14 tahun yang lalu
-
-
-
-
Author
Oleh: Yu Surya Kangkung
Mak Inah yang sedang membelah kayu menoleh. Ia tersenyum melihat Humairoh tampak sibuk mempersiapkan peralatan untuk merumput. Betapa lincahnya gadis kecil berumur tujuh tahun itu. Dulu, Humairoh masih berupa bayi kemerah-merahan, tergeletak di sela-sela rumput ilalang tempat Mak Inah selalu mencari makanan sapi Pak Tono. Saat pertama kali Mak Inah menemukan Humairoh, tubuh kecil mungilnya diam tak bergerak, tak ada suara tangisan. Setelah kedua tangan Mak Inah mengangkatnya, suara tangisnya pun pecah. Bayi mungil itu seakan-akan memang menunggu kedua belah tangan Mak Inah mengangkatnya. Dengan senang hati Mak Inah membawanya pulang, lalu ia besarkan. Meskipun Humairoh bukanlah anak yang lahir dari rahimnya, Mak Inah tetap menyayangi Humairoh.
“Mak, kenapa diam?”
“Eh, tidak apa-apa,” jawab Mak Inah kaget, “nanti, setelah Emak selesai menanak nasi barulah kita pergi merumput.”
“Kalau begitu, Emak cucilah berasnya,” kata Humairoh, “biar akau saja yang menyalakan api.”
Mak Inah mengangguk, senyumnya pun mengembang kembali. Senang melihat gadis kecilnya selalu ceria dan penuh semangat.
Setelah selesai memasak, Mak Inah dan Humairoh segera pergi mencari rumput. Dengan menggunakan sepeda tua peninggalan suaminya yang telah tiada, Mak Inah membawa tubuh kecil Humairoh mencari sesuap nasi. Tanpa lelah, Mak Inah mengayuh pedal sepedanya sambil sesekali tertawa kecil mendengar celoteh Humairoh yang tiada henti. Tak terasa, setelah menempuh perjalanan yang jauhnya dua belas kilo meter, mereka pun sampai. Humairoh segera turun dari sepeda, berlarian menuju padang ilalang. Tangan kecil Humairoh dengan cekatan menyabit rumput.
“Humairoh, hati-hati Nak. Sabitnya tajam, kemarin baru Emak asah.” Mak Inah memperingatkan.
“Baik, Mak,” jawab Humairoh singkat.
Satu jam lebih Mak Inah dan Humairoh menyabit rumput. Akhirnya karung goni yang tadinya kosong, kini berisi penuh dengan rumput. Mak Inah beristirahat di bawah pohon randu yang tumbuh tidak jauh dari sana, sedangkan Humairoh, seperti tiada lelah ia berlari ke tengah padang rumput. Ia bernyayi dan menari. Dipetiknya beberapa helai rumput ialang, lalu ia rangkai menjadi mirip mahkota seperti yang selalu diajarkan Emaknya.
“Mak, lihat … aku mirip seorang tuan puteri,” kata Humairoh seraya berlarian menghampiri Emaknya.
“Iya, mirip puteri Nawang Wulan yang cantik.”
Humairoh tertawa riang mendegar sang Emak menyamakan dirinya dengan salah seorang tokoh cantik di dalam dongeng Jaka Tarub dan Nawang Wulan yang selalu menjadi penghantar tidurnya.
Hari-hari Mak Inah selalu dipenuhi tawa riang Humairoh. Tawa yag berubah menjadi air mata, ketika diperolokan temannya sebagai anak yang tidak mempunyai Bapak. Seperti waktu itu, Humairoh bermain dengan teman-temannya di depan rumah. Gelak tawanya terdengar oleh Mak Inah yang sedang menjahit. Tak lama kemudian, tawa itu berubah menjadi suara tangisan.
Mak Inah berlari menghampiri Humairoh. Ia peluk gadis kecilnya itu, lalu tanyanya, “Humairoh, kenapa engkau menangis, Nak?”
“Mayang … meledekku … katanya aku tidak punya Bapak,” jawab Humairoh tersedu-sedu.
Darah Mak Inah berdesir mendengar kata-kata Humairoh, anaknya. Semakin eratlah ia memeluk Humairoh.
“Jangan menangis, sayang. Dari surga Bapak melihat, kalau dilihatnya engkau sedang menangis, nanti ia sedih.”
Humairoh cepat menghapus air mata. Ia pernah mendengar cerita dari Emaknya bahwa sang Bapak telah lama meninggal sejak ia masih berada di dalam kandungan, sebuah cerita karangan untuk seorang anak yang tidak tahu perihal akan dirinya.
Seiring berlalunya waktu, Humairoh pun tumbuh menjadi gadis remaja. Mak Inah tidak bisa mengarang cerita lagi, mengatakan bahwa sang Bapak telah lama tiada. Kini, Humairoh telah mengerti bahwa kata-kata “tidak punya bapak” sama artinya dengan anak yang lahir tanpa bapak. Sudah terlalu sering ia mendengar orang-orang membicarakan dirinya sebagai anak yang lahir tanpa bapak, lalu dibuang di semak-semak ilalang. Humairoh mencoba untuk tidak menangis karena ia toh sama sekali tidak kurang kasih sayang dari seorang Emak yang bernama Inah. Humairoh melewati hari-harinya seperti biasa, tersenyum dan tertawa. Hingga sampai suatu saat, Humairoh tidak bisa lagi berpura-pura tertawa, namun di dalam hati menangis.
Pagi itu, Humairoh hendak membeli sabun. Tampak para Ibu sedang berbelanja di warung Wak Eli. Mereka tak menyadari kedatangan Humairoh, hingga tanpa sengaja Humairoh mendengar pembicaraan mereka, lagi-lagi mengenai dirinya. Humairoh pura-pura tidak tahu, ditundukannya saja kepala seperti yang selalu ia lakukan. Akan tetapi, entah mengapa hari itu ia ingin sekali menatap wajah-wajah yang senang sekali mempergunjingkan dirinya. Humairoh menatap mereka yang memandangi dirinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki dengan rasa jijik. Humairoh ingin menangis. Bukanlah kata-kata “tidak punya bapak” yang membuatnya ingin menangis, melainkan pandangan mereka seolah-olah melihat hal yang paling menjijikan di dunia. Humairoh mengambil langkah seribu, meninggalkan warung Wak Eli. Ia menahan air matanya agar tidak tumpah, diambilnya sepeda Emaknya yang diletakan di samping rumah. Tanpa pamit, ia pun pergi. Ia mengayuh sepeda sekuat tenaga menuju padang ilalang. Tempat yang tak seorang pun akan melihatnya menangis. Disanalah, Humairoh menangis sejadi-jadinya. Meratapi dirinya sendiri. Kalaulah ia anak jadah, pastilah ia memiliki Ibu meskipun tiada berbapak. Tapi, ia tak memiliki ayah bahkan ibu. Ia berpikir kalau dirinya terlahir dari batu.
Rumput ilalang bergoyang-goyang tertiup angin, membelai rambut Humairoh yang hitam panjang.
“Humairoh, kenapa engkau menangis? Dimanakah engkau sembunyikan tawa riangmu?” tanya rumput ilalang.
“Aku sedih, tidak memiliki Bapak bahkan Ibuku pun entah di mana,” jawab Humairoh terisak-isak.
“Jangan menangis Humairoh. Jalani sajalah hidupmu seperti apa adanya.”
“Tapi Tuhan tidak adil. Kenapa aku terlahir sebagai anak yang tak diinginkan, anak jadah!” protes Humairoh.
“Ada saatnya nanti engkau akan mengerti, kenapa engkau terlahir sebagai dirimu,” kata rumput, “seperti aku, dulu aku bertanya mengapa aku diciptakan sebagai ilalang. Selalu menurut kemana pun ditiup angin. Malu, dikatakan tidak berpendirian. Coba kau lihat pohon randu itu ….” rumput ilalang menghentikan kata-katanya.
Humairoh menoleh ke arah pohon randu yang selalu menjadi sandaran Emaknya. Pohon itu kini telah tumbang.
Rumput ilalang kemudian berkata lagi, “Kemarin, pohon randu itu masih kokoh. Sampai saatnya datanglah angin yang berhembus sangat kencang. Ia tetap berdiri dengan kokoh melawan angin, tapi … lihatlah, ia roboh karena kesombongannya. Sedangkan aku, masih di sini, masih di tempatku berada. Akhirnya, aku mengerti mengapa aku diciptakan sebagai ilalang,” rumput ilalang berhenti sejenak, lalu lanjutnya, “Tersenyumlah Humairoh, aku akan bernyanyi untukmu.”
engkaulah pemeran utamanya
Berlakonlah sebaik mungkin, hingga kisahmu akan berakhir bahagia
Kalaupun tiada bahagia,
yakinlah bahwa kisahmu tetap memberi makna.
Humairoh menyusut air matanya, lalu tersenyum. Ia mulai mengerti mengapa ia terlahir sebagai Humairoh. Andai saja ia tidak terlahir sebagai anak jadah, mungkin ia tak akan dibuang. Ia juga tidak akan bertemu Mak Inah, tak akan merasakan lembutnya belaian tangan wanita itu, tak akan merasakan betapa hangat berada di pelukannya, tak akan melihat senyumnya yang selalu memberi semangat. Humairoh segera bangkit, berjalan meninggalkan padang ilalang.
*Tamat*
Oleh: Yu Surya Kangkung
Hujan turun sebentar, hanya sekedar untuk membasahi jalanan yang berdebu. Kupandangi motor yang lalu-lalang di jalanan, tapi tak satu pun pengendaranya Bima, orang yang ku tunggu. Sudah satu jam lamanya aku menunggu, batang hidung Bima belum juga tampak. Aku mulai risih ketika beberapa orang cowok yang sedang menunggu bis, di halte tempatku menunggu Bima, mulai menggoda. Aku tidak suka dengan tatapan mereka yang nakal. “Dasar! Tidak bisa melihat wanita cantik.” kataku dalam hati dengan PD alias percaya diri. Dulu ketika dandananku masih culun, tidak ada seorang pun yang mau berteman dengan ku, kecuali Luna teman baikku, dan Bima yang sekarang telah menjadi kekasihku.
Masih kuingat saat pertama kali aku berkenalan dengan Bima.
“Boleh Pinjam penanya?” tanya Bima kepadaku yang sedang mengantri untuk registrasi ulang. Kuberikan pena yang sedari tadi masih kupegang.
“Kuliah semester berapa?” tanya Bima seraya mengisi formulir F-1 nya.
“Tiga.”
“Jurusan?”
“Sastra Inggris.”
“Wah hebat! Jago bahasa Inggris dong?”
Aku tersenyum saja.
“Perkenalkan … Aku Bima.”
Kujabat tangan Bima dengan agak sedikit canggung. Maklum, ini pertama kalinya ada cowok tampan yang mau berkenalan denganku.
“Mahasiswa Teknik Informatika, semester Lima. Pindahan dari Bandung.” Bima memberi info tanpa kutanya.
“Ngomong-ngomong, pulangnya kemana?” tanya Bima sambil mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Laptop yang paling mahal harganya. Dari laptop berwarna biru keperakan itu, aku dapat menebak kalau Bima adalah anak orang elit.
“Pulangnya kemana?” tanya Bima sekali lagi karena didapatinya aku hanya bengong saja.
“Eh… Silaberanti,” jawabku agak kaget
“Silaberanti, bukankah daerah itu tidak jauh dari sini?”
Aku mengangguk. Lama kami terdiam. Bima sibuk mengutak-atik laptopnya. Beberapa saat kemudian dia bertanya.
“Punya Facebook?”
Belum sempat aku menjawab, nomor antrianku dipanggil.
“Maaf, aku duluan.”
“Oh ya, silahkan.”
Hari Pertama perkuliahan dimulai, dosen hanya memberikan silabus dan sedikit penjelasan tentang materi yang akan dipelajari. Belum sampai satu jam, dosen sudah keluar ruangan. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi sampai ke jam mata kuliah selanjutnya. Sebagian teman-teman, ada yang pergi ke kantin, ada juga yang tetap menunggu di kelas sambil mengobrol atau mendengarkan MP3. Aku sendiri memilih tetap di kelas sambil membaca Hamlet karangan Shakespeare yang belum aku selesaikan. Aku mulai membaca dan tenggelam dalam duniaku sendiri. Tiba-tiba, suasana di dalam kelas menjadi hening. Aku mengangkat wajahku. Tampak seorang cowok bertampang keren mendekatiku. Bima…
“Ini penanya, maaf aku lupa mengembalikan.”
Diletakannya pena hitam itu di atas bukuku. Pena yang akupun sudah lupa kalau aku pernah meminjamkannya kepada seseorang. Bima tersenyum kepadaku. Duh! Senyum dan lesung pipitnya itu membuat wanita mana saja yang melihatnya pasti akan tergoda. Bima mengerlingkan matanya kepadaku yang hanya bengong bagai orang tolol, tiap kali memandangnya. Deg! Semakin rontok jantungku dibuatnya.
Sejak itu, aku dan Bima berteman. Semenjak itu pula teman-teman mulai mendekatiku, terutama teman wanita. Mereka memintaku agar memperkenalkan Bima dengan mereka. Pertemananku dengan Bima membawa perubahan. Aku yang dulunya tidak pernah memperhatikan penampilan, kini sedikit demi sedikit mulai mengerti dengan fashion. Aku agak kaget ketika Bima menyatakan cintanya dan ingin menjadi kekasihku. Awalnya aku menolak, tapi Bima berhasil meyakinkanku.
Tin…tin, bunyi klakson motor membuyarkan lamunanku. Bima menyodorkan helm. Aku segera memakainya dan naik ke motor.
“Kemana saja Bim, kok lama sekali?”
“Motornya mogok.”
“Kenapa tidak menelepon, handphone kamu juga tidak aktif.”
Bima tidak menjawab. Bruummm … motornya melaju dengan cepat. Terkadang aku merasa was-was bila diboncengnya. Maklumlah, Bima sering ikut balapan motor, jadi jalan raya pun mungkin dianggapnya sirkuit.
“Bim, kita mau kemana?” aku bertanya karena bingung.
Bima membelokkan motornya ke arah lorong menuju rumahku.
“Ganti sepatumu dengan sepatu warna pink yang aku belikan.”
“Hah! Cuma untuk mengganti sepatu saja,” rutukku dalam hati. Namun kuturuti saja. Aku tidak tahan bila harus bertengkar dengan Bima gara-gara hal kecil.
“Tunggu!” Cegah Bima ketika aku akan melangkah masuk kedalam rumah. “Rambutmu kuncir dua, pakai pita warna pink juga.”
Aku menganggukan kepala, lalu melangkah membuka pintu. Belum sempat memegang gagang pintu, Bima mencegah lagi. Aku membalikan tubuhku.
“Lipstik kamu tidak kelihatan.”
“Iya tuan, masih ada lagi?” tanyaku setengah kesal.
“Uhmmm … sudah, itu saja. Cepat ya, nanti kita terlambat ke pestanya.”
Aku menghela nafas, lekas masuk kedalam rumah. Cepat-cepat kukuncir rambutku, menebalkan lipstik, dan mengganti sepatu, lalu keluar lagi.
“Nah! Begitukan lucu,” komentar Bima dengan senyum yang khas memamerkan lesung pipitnya.
Lucu, ugh! Selalu saja itu komentarnya, tetapi tak apalah. Demi menyenangkan hati kekasih sendiri.
Pesta ulang tahun teman Bima meriah sekali. Aku masih minder bila harus berkumpul dan mengobrol dengan teman-teman Bima yang kebanyakan adalah orang elit. Di pesta, aku hanya diam saja. Duduk menyendiri. Ku biarkan Bima asyik mengobrol dengan teman-temannya, saking asyiknya sampai-sampai dia tidak sadar kalau aku tidak bersamanya. Ketika dia sadar, barulah dia mendekatiku yang sedang duduk mengamati ikan Koi di dalam kolam.
“Apa yang kamu lakukan disitu?”
“Ini ikannya, lucu sekali.” jawabku seraya menunjuk ke kolam.
“Ah! Kamu ini. Kita kesini untuk acara pesta ulang tahun, bukan menonton ikan.”
Dia tarik tanganku, lalu diperkenalkannya aku kepada teman-temanya. Duh! Aku gugup. Saking gugupnya, aku ingin ke toilet. Aku segera permisi. Ketika kembali lagi, kulihat Bima yang tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Mereka tidak menyadari kedatanganku. Salah satu dari mereka berkomentar yang membuat telingaku panas.
“Oh, jadi kekasih kamu yang sekarang kamu anggap Topeng Monyet juga. Dari kecil suka Topeng Monyet, hingga semua kekasihnya pun dianggap Topeng monyet.”
Lalu yang lain menimpali, “Iya, monyetnya juga lucu. Monyet Pinky.”
Terdengar kembali suara tawa mereka yang meledak. Merah padam jadinya mukaku, darah pun serasa mendidih. Namun aku berusaha sekuat tenaga agar aku tidak mengamuk dan membuat kekacauan serta menjadikanku benar-benar seperti monyet liar yang lepas. Pelan-pelan aku meninggalkan ruangan. Setelah sampai di luar, aku mengambil langkah seribu. Tak ada air mata sedikitpun yang keluar, yang ada hanyalah kemarahan.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk kekamar. Kulepaskan semua barang yang berwarna pink di tubuhku, barang yang membuatku dianggap seperti Topeng Monyet. Aku mengoceh dan memaki diriku sendiri, ”Bodoooh!” Aku memang bodoh, mencintai pria seperti Bima. Seharusnya dari dulu aku menyadari, mana mungkin Bima yang tampan dan keren mau mencintai gadis culun sepertiku dengan setulus hatinya.
Tak lama kemudian terdengar suara motor Bima yang memasuki halaman rumah, cepat aku menyembunyikan tubuhku di bawah selimut, pura-pura tidur.
Ibu masuk kekamar, diguncang-guncangnya bahuku, ”Yan... ada Bima.”
”Katakan saja aku sedang tidak mau bertemu dengannya. Kepalaku lagi pusing!”
Ibu memandangku bingung dan mengernyitkan dahinya, lalu cepat keluar kamar menemui Bima. Tak lama, terdengar suara mesin motor Bima yang dihidupkan, kemudian pergi.
“Kenapa melamun?”
Aku menoleh, tahu-tahu Ayah sudah duduk di samping kananku. Aku tidak menjawab. Kupandangi Ayah yang mulai tampak tua. Rambut putihnya terlihat jelas walaupun di bawah sinar bulan. Ayah yang sangat kusayangi. Ayah sekaligus teman tempat aku bercerita selain kepada Luna. Aku bersandar di bahunya. Entah, sampai kapan aku masih bisa bersandar di bahu yang telah tua dan renta ini.
“Ada apa?” tanya ayah lembut. Diusap-usapnya kepalaku.
Aku tidak tahu harus dari mana memulai ceritaku. Apakah Ayah akan percaya jika aku bercerita kepadanya, karena selama ini Ayah beranggapan kalau Bima adalah pemuda yang baik. Kupejamkan mataku sesaat, lalu menghirup nafas panjang sebelum memulai ceritaku.
“Hari ini aku marah dengan Bima, karena aku dianggapnya Topeng Monyet.”
“Topeng Monyet?”
Kujelaskan pada Ayah dari awal hingga akhir apa yang terjadi di pesta ulang tahun tadi siang.
“Ayah bayangkan. Selama ini aku dianggapnya Topeng Monyet karena menurut saja apa yang disuruhnya,” kuakhiri ceritaku.
Ayah hanya diam, tak lama kemudian dia berujar, “ Mungkin kamu salah dengar.”
“Tidak Ayah, aku mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.”
“Tapi bisa sajakan, kalau gadis yang dianggap Topeng Monyet itu bukan kamu?”
“Tidak, tidak. Aku tidak mungkin salah. Bima menganggap semua kekasihnya baik yang dahulu maupun yang sekarang sebagai Topeng Monyet, dan aku adalah kekasihnya yang sekarang. Itu sudah jelas, Ayah!”
Nada pada kata-kataku agak bergetar. Aku takut jika Ayah lebih memilih membela Bima daripada aku.
“Tapi kamu tulus menyayangi Bima kan?”
Mataku terbelalak lebar dengan pertanyaan Ayah. Sungguh aku tidak mengerti apa yang ada di benak Ayah.
“Seandainya aku tahu akan disakiti, lebih baik tidak usah tulus,” kataku seraya mengusap butiran air mata yang mulai mengalir dari sudut mataku. Aku merasa bahwa Ayah memihak kepada Bima.
Bima yang bersikap sopan. Bima teman Ayah bermain catur. Bima teman berkelakar Ayah. Bima yang selalu memperbaiki motor Ayah bila mogok, mungkin hal-hal inilah yang merebut hati Ayah dariku.
Aku semakin terisak-isak saat Ayah merangkul pundakku dan berkata, “Jangan menangis. Ayah yakin ketulusanmu akan berbuah manis,” Ayah melepas rangkulannya, lalu katanya lagi, “Sekarang, lebih baik kamu istirahat.”
Ku gelengkan kepala, “Aku masih mau disini, sebentar lagi.”
“Baiklah, tapi jangan terlalu lama di luar. Nanti masuk angin.”
Ayah meninggalkan kusendirian, yang termangu merenungi nasib. Mengapa Bima begitu tega melakukan hal yang sangat menyakitkan hati? Selama ini ia tidak mencintaiku.
“Yanti.”
Tiba-tiba suara Bima memanggil dari balik pintu belakang, ia menghampiriku.
Aku beranjak dari duduk, hendak masuk ke dalam rumah. Namun ia menghadang. Tangannya yang kekar mencengkeram pergelangan tanganku.
“Kamu kenapa?”
Bima menatapku. Tatapannya yang dapat meluluhkan hati. Aku tak kuasa menatap mata itu hingga dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan cengkeramannya.
“Lepaskan tanganku, aku mau tidur!”
“Tidak akan, sebelum kamu katakan apa salahku sehingga kamu pergi menghilang dari pesta, lalu kini berusaha menghindariku tanpa alasan yang jelas.”
“Pikirkan saja oleh dirimu sendiri!” Kataku sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Bima.
“Aku benar-benar tidak tahu, Yan?”
Lama aku berdiam diri, berusaha mengontrol emosiku. Kalau saja tidak ada sisa cinta di hati ini, pastilah Bima sudah kutendang seperti aku menendang kaleng kosong. Klontanggg … Kutendang jauh-jauh hingga aku tidak bisa melihatnya lagi.
“Kesalahanmu adalah menganggapku sebagai Topeng Monyet.”
“Topeng Monyet? Kamu bicara apa sih?”
“Kamu jangan pura-pura tidak mengerti, Bim. Aku dengar apa yang kalian bicarakan waktu di pesta tadi siang. Sungguh tragis nasib semua kekasih kamu, dianggap Topeng Monyet. Sialnya, salah satu dari mereka adalah aku. Kamu sungguh keterlaluan!”
“Tapi Yan....”
“Apa?! Kamu mau bilang kalau aku ini memang Topeng Monyet sungguhan!!” Aku menghardik dengan suara keras
“Maaf ... aku mengaku salah, tapi aku sungguh menyayangimu.”
“Lantas kenapa kamu menganggapku Topeng Monyet? Sekarang pergilah. Anggap saja kita tidak pernah kenal.”
Air mata yang sedari tadi kutahan, kini mulai mengalir membasahi pipi. Entah air mata buaya atau bukan, aku pun melihat butiran bening metes dari sudut mata Bima. Untuk pertama kalinya aku melihat laki-laki menangis. Bahkan aku tidak tahu dalam hal apa laki-laki akan menangis, yang aku tahu laki-laki tidak boleh menangis. Bima, lelaki yang egois dan keras kepala, menangis di hadapanku. Dia rangkul tubuhku.
“Ku mohon berilah aku kesempatan. Aku terlanjur sayang padamu dan tidak mungkin membunuh rasa ini. Ku mohon, maafkan aku....”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Spontan tanganku membalas rangkulan Bima. Hidup ini memang aneh. Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang terhadap kita, bisa menjadi api. Membara, berkobar membakar apa saja yang ditemuinya. Tetapi, dengan sederhana cinta mampu memadamkan api yang membara. Dengan mudah aku memaafkan Bima karena aku tulus mencintainya.*
Cahaya Lilin
Oleh Yu Surya Kangkung
Deru motor Benjo berkoar-koar memekakan telinga setiap pejalan kaki. Ia tak perduli dengan sumpah serapah dan makian orang-orang yang jengkel terhadapnya.
Benjo adalah seorang pemuda tengik berumur enam belas tahun. Aku menyebutnya pemuda tengik karena ia memang pemuda tengik, setengik kelakuannya yang suka petenteng menghabiskan harta orang tuanya. Aku mengenal Benjo, jauh ketika kami berdua masih bocah ingusan. Kala itu, Benjo masih berupa bocah manis yang setiap petang hobinya ke langgar untuk mengaji. Namun semenjak ibunya meninggal, Benjo banyak berubah. Kini kerjaan Benjo setiap hari cuma menghabikan bensin, alias bolak-balik dari rumahnya di daerah Perumnas ke daerah Silaberanti. Hanya satu hal saja yang tidak berubah dari Benjo, ia tetap menjadi orang nomor satu yang membantuku jika aku berada dalam kesulitan. Hal inilah yang membuatku betah berteman dengannya walaupun ia pemuda tengik.
Bruuum … bremm … bem, suara motor Benjo yang berhenti di depan rumahku, membuat diriku yang tengah berada di alam fantasi para tokoh Elis di Negeri Ajaib, tersentak. Lekas kututup buku yang sedang kubaca dan segera membuka pintu.
“Jo, ini bukan sirkuit balapan!” kataku setengah berteriak.
Benjo pura-pura tidak mendengar. Dihampirinya aku yang masih berdiri di depan pintu, lalu seraya menepuk bahuku ia berkata tanpa basa-basi, “Nanti malam temani aku.”
“Kemana?” tanyaku singkat.
“Ke rumah Kakek Nur,” jawab Benjo sambil meringis.
“Apaaa!” kataku kaget, lalu lanjutku, “tidak … tidak, kau pergi saja sendiri.”
“Kenapa, kautakut?”
“Bukan itu masalahnya, tapi kita jangan mencari mati di sana. Kau pasti sudah dengar tentang kabar angin itu.”
“Kalau kautidak mau, aku pergi sendiri!” tegas Benjo. Ia bergegas pergi.
Aku menarik bahu Benjo, lalu kataku, “Baik kawan, aku temani.”
Benjo hanya menepuk-nepuk bahuku seperti yang selalu ia lakukan. Sesaat kemudian, bruuum … Benjo pergi. Yang tertinggal cuma kepulan asap motornya saja
Aku menghela nafas dalam memandangi kepergiannya. “Pemuda tengik yang keras kepala,” pikirku. Sudah banyak kabar angin yang kudengar mengenai Kakek Nur, seorang kakek yang tinggal di daerah Bagus Kuning. Kakek Nur sangat disegani oleh orang-orang di daerahnya. Ia terkenal sebagai orang sakti yang tiap-tiap ucapannya adalah pahit. Sudah banyak bandit kelas teri hingga kelas kakap yang mendatangi rumah sang Kakek hanya untuk mempelajari ilmu kesaktiannya. Namun, mereka hanya pulang dengan tangan kosong dan sedikit cacian. Malahan, kebanyakan dari mereka kena disumpah. Alhasil, keesokan harinya mereka sakit. Ih! Serem.
Agar tidak memancing perhatian warga Bagus Kuning, Benjo sengaja meniggalkan motornya. Dengan langkah mantap, Benjo menuju ke rumah Kakek Nur. Aku mengikutinya dari belakang sambil sesekali bersenandung kecil untuk menghilangkan rasa takut. Setelah berjalan hampir satu jam, kami pun tiba di sebuah jalan setapak menuju ke rumah Kakek Nur. Pelan-pelan kami menyusuri jalan tersebut. Suara jangkrik mengerik dari balik rumput ilalang yang banyak tumbuh di samping kanan kiri jalan.
Sesaat aku ragu dan menghentikan langkahku, lalu aku bertanya, “Jo, sebenarnya apa tujuanmu datang ke rumah Kakek Nur?”
Tanpa menoleh, Benjo menjawab pertanyaanku.
“Aku mau minta ilmu kebal.”
Aku kaget setengah mati, “Gila kau!” umpatku, “sebaiknya kau urungkan niatmu.”
Benjo berbalik, lalu ia bertanya, “Kau mau menemani aku atau tidak?”
“Maaf kawan, sepertinya aku akan menunggumu di bawah pohon itu saja,” jawabku sambil menunjuk ke arah sebuah pohon mangga yang terletak tidak jauh dari tempatku berdiri. Tanpa banyak bicara lagi, aku berlari menuju pohon mangga tersebut.
Adapun dengan Benjo, ia tetap melanjutkan niatnya. Benjo menghentikan langkahnya tepat di sebuah bilik bambu beratap rumbia, satu-satunya gubuk kecil yang terletak sekitar seratus meter agak menjauh dari rumah penduduk, itulah rumah Kakek Nur. Suasananya gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali. Benjo mengeluarkan ponsel dari saku celana, kemudian ia menghidupkan lampu senter di ponselnya. Benjo berjalan mengendap-endap. Ia hendak mengetuk pintu, namun ia menahan ketukan tangannya. Ia sangsi, jangan-jangan orang yang dicari tidak ada di rumah.
“Siapa di luar?” tiba-tiba dari dalam rumah ada suara orang memanggil.
“Maaf, saya tersasar,” jawab Benjo setengah kaget.
Pintu dibuka, dari dalam munculah seorang kakek tua berperawakan tinggi besar. Jenggotnya menjuntai panjang. Rambutnya yang putih digelung mirip seorang empu di zaman Majapahit.
“Masuklah,” Kakek tua yang bernama Nur itu mempersilahkan.
Benjo masuk, tanpa disuruh ia duduk di lantai rumah yang nampak mulai lapuk. Matanya menggitari ruangan. Tidak nampak perabotan apa pun kecuali sebuah tikar anyaman daun pandan dan sebuah lilin sebagai penerang.
Kakek Nur duduk bersila di hadapan Benjo. Seraya meletakan kendi berisi air, ia bertanya, “Dari mana dan hendak kemanakah engkau ini?”
“Saya datang dari daerah Pampangan hendak ke rumah seorang kawan lama yang tinggal di Silaberanti, tetapi saya tersasar.” Benjo mengarang cerita.
Kakek Nur menatap Benjo dalam-dalam. Tatapan sang Kakek yang begitu tajam membuat Benjo salah tingkah.
“Kenapa harus berbohong, Benjo!”
Jantung Benjo berdegup kencang, dengan terbata-bata ia bertanya, “Ka … Kakek tahu dari mana namaku.”
“Cahaya lilin ini mampu menerangi tulisan yang ada di dinding hatimu. Engkau berbohong, sebenarnya kenapa engkau datang kemari?”
Lama Benjo terdiam, sebelum akhirnya menjawab.
“Maafkan saya, Kek. Saya kemari, sebenarnya mau minta diajari ilmu kebal. Kata orang, Kakek adalah orang sakti.”
Kakek Nur tersenyum sinis, sambil mengelus jenggotnya ia berkata, “Ilmu kebal adalah ilmunya orang-orang yang takut mati. Bukankah pada akhirnya kita semua akan mati?”
Benjo melongo, tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Kakek Nur.
“Sekarang pulanglah. Besok malam engkau kembali lagi,” tiba-tiba Kakek Nur menyuruh.
Bingung, Benjo sungguh bingung. Ia hanya bisa garuk-garuk kepala, tetapi ia tidak membantah perintah Kakek Nur. Cepat ia keluar rumah dan segera pulang. Benjo bersiul-siul kecil. Di dalam hatinya ia tersenyum. Ternyata Kakek Nur tidak seseram yang dikatakan oleh banyak orang. Benjo menghampiriku yang masih berdiri di bawah pohon mangga.
“Bagaimana?” tanyaku harap-harap cemas.
“Beres ...” jawab Benjo, “besok aku disuruhnya kembali lagi.”
“Benarkah?” tanyaku agak ragu.
Benjo menepuk-nepuk bahuku pertanda tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sepoi angin malam mengiringi langkah kami, pulang ke rumah.
Keesokan harinya, pada waktu yang sama seperti kemarin, Benjo datang kembali ke rumah Kakek Nur. Tapi, kali ini ia tak ditemani olehku karena aku harus mengantarkan Ibu ke Jambi.
Pelan – pelan Benjo mengetuk pintu rumah Kakek Nur.
“Masuklah, tidak dikunci!” dari dalam rumah, Kakek Nur mempersilahkan.
Tampak Kakek Nur yang sedang duduk bersila dengan sebuah buku di hadapannya. Setelah Benjo mendekat, barulah ia tahu buku dihadapan Kakek Nur ternyata kitab suci Al – Quran. Sepertinya Kakek Nur baru saja selesai mengaji.
“Kakek masih bisa membaca? Maksud saya masih jelas melihat tulisan yang hanya diterangi cahaya lilin?” ralat Benjo.
Kakek Nur tersenyum penuh arti. Bukannya menjawab, ia malahan bertanya, “Apakah engkau bisa mengaji, Benjo?”
Benjo menggeleng. Ia tidak bisa mengingat lagi kapan terakhir kali ia pergi mengaji di langgar Wak Safar. Bahkan ia sudah lupa dengan ayat-ayat pendek yang dulu pernah ia hafal.
“Orang hidup harus mengaji, sebelum cahaya lilin mati,” gumam Kakek Nur seolah pada dirinya sendiri.
Untuk yang kesekian kalinya Benjo bingung. Pikirannya melayang-layang, dicobanya untuk menerka maksud dari kata-kata Kakek tua itu.
Bleep … tiba-tiba saja lilin mati. Semuanya menjadi gelap gulita.
“Kenapa Kek, apakah lilinnya habis?” tanya Benjo panik.
Tidak ada jawaban. Tidak ada suara, senyap. Benjo ketakutan, Ia berpikir jangan-jangan kabar angin itu benar adanya. Sekarang giliran dirinya yang disumpah jadi patung karena Kakek Nur tidak suka terhadapnya. Benjo meraba saku celananya, mencari ponsel. Belum sempat Benjo menghidupkan lampu senter ponselnya, crees … Kakek Nur memantik korek api, lilin pun hidup kembali.
“Tidak enak ya, meraba-raba di dalam gelap,” komentar Kakek Nur
Benjo menghela nafas, ia merasa agak lega.
“Lilinnya mati tertiup angin,” kata Kakek Nur, lalu lanjutnya,“engkau tidak usah pulang. Hari sudah terlalu malam, menginaplah di sini.”
“Ya, saya kira sebaiknya juga begitu.” Benjo menimpali.
Benjo berpikir tidak ada salahnya menginap di rumah Kakek Nur. Lagi pula rumah Kakek Nur terasa nyaman meskipun hanya bilik bambu. Tidak ada nyamuk maupun tikus yang mondar-mandir. Beda dengan rumahnya yang meskipun gedong, tetapi banyak perangkap tikus yang ditebar di sana-sini. Setiap malam, kamarnya juga harus disemprot racun nyamuk sehingga membuat dadanya sesak. Kakek Nur bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan Benjo, ia pun bercerita kalau tikus zaman sekarang dengan zaman dahulu itu berbeda. Kalau tikus zaman sekarang suka makanan yang lezat, terlebih lagi tikus-tikus kota, sedangkan tikus zaman dahulu makan seadanya, hanya untuk bertahan hidup.
Benjo terus mendengarkan cerita-cerita Kakek Nur, dari hal mengenai tikus-tikus kota, terus menelusuri sungai-sungai tempat Kakek Nur suka memancing, kemudian berjalan menaiki perbukitan tempat Kakek Nur mengembalakan kambing, hingga sampailah ke hutan belantara tempat para tentara Indonesia bersembunyi dari kejaran kompeni Belanda. Cerita yang sangat seru, bahkan bagi Benjo lebih seru dari pada cerita petualangan mana pun. Benjo pun sudah lupa dengan ilmu kebal yang diinginkannya. Seluruh perhatian Benjo tertumpah pada cerita Kakek Nur. Mata Benjo mulai mengantuk. Ia memejamkan matanya, sayup-sayup ia mendengar Kakek Nur yang mulai mengaji kembali. Suara Kakek Nur agak berat, namun mampu menenteramkan hatinya. Benjo pun terlelap. Di dalam tidurnya, ia melihat ribuan lilin mengelilinginya. Cahaya lilin-lilin tersebut menyilaukan matanya. Bukan, itu bukan cahaya lilin, melainkan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dinding. Ternyata hari telah pagi. Benjo mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mencari sosok Kakek Nur, tetapi ia tidak menemukan sang Kakek dimana pun. Yang ia temui hanyalah selembar kertas usang, tergeletak di samping lilin yang cahayanya telah padam karena sumbunya telah habis dimakan api. Di atas kertas itu ada tulisan, agak pudar namun masih bisa dibaca.
Pergunakan cahaya yang ada sebaik mungkin
Sebelum cahayanya pergi bersama angin
Benjo berlari keluar rumah. Ia bertanya kepada para penduduk kampung, kalau-kalau ada yang melihat Kakek Nur. Namun tak seorang pun yang tahu dengan keberadan kakek tua tersebut. Kakek Nur menghilang seperti cahaya lilin yang tertiup angin, lenyap tanpa bekas. Semenjak kejadian itu, Benjo berubah total. Ia mulai kembali mengaji. Katanya, ia harus mengaji sebelum cahaya lilinnya mati. Ia sadar, mungkin Tuhan telah megirimkan Kakek Nur untuknya agar ia dapat belajar cara memaknai hidup. Hmmm, aku senang Benjo telah berubah. Benjo bukan lagi pemuda tengik, tapi kini ia telah berubah menjadi pemuda terbaik yang pernah kukenal.




