After The Rain Part 1

Dear diary, Hari ini ada reuni SMP Harapan Bangsa. Dan tiba-tiba aja aku ingat lagi sama Ardi. Yeah, Ardi si Cinta Pertama itu loh! Dia bakal datang gak ya? Kayak gimana ya dia sekarang? Aku penasaran. Aku harap dia datang. Apa hatiku masih akan berdebar ya kalo ketemu dia?
Rintik-rintik hujan mulai membasahi mobil Veya yang melaju menuju SMP Harapan Bangsa. Dan seiring hujan turun, lalu lintas pun mulai tersendat-sendat. Veya pun akhirnya menyandarkan badannya dan menghela napas, dia terlihat lelah.

Read More

Profil Dewi Lestari

Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee (lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976; umur 35 tahun) adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia.
Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis.

Read More

Cerber Cattelya Part 1

Malam ini aku menantimu, sama seperti malam malam sebelumnya. Duduk sendirian di taman Cattelya. Ditemani indahnya lampu malam yang berwarna warni, cukup menghibur kesendirianku. Aku akan tetap menantimu Carla, sampai kapan juga.
Taman Cattleya begitu berarti buatku. Selain karena aku yang mendesain sendiri taman ini, suatu pertemuan yang tanpa sengaja telah terjadi disini, kamu dan aku. Senyumku semakin berkembang saat mengingatmu.

Read More

Anda Seorang Penyendiri atau Pemalu?

Pernah tahu tentang seseorang yang perlu menyendiri, berjam-jam tiap harinya? Yang gemar mengobrol tentang ide-ide, tentang perasaan? Yang kadang-kadang bisa mempresentasikan sesuatu dengan hebat di hadapan banyak orang, tapi begitu canggung saat berada di kelompok yang lebih kecil?
Apakah kita menjulukinya "orang serius", "sombong" ? atau bertanya kepadanya 'eh, kamu sakit ya'?

Read More

Farhan

Pria itu akhirnya sadar kalau aku mengikutinya dari tadi. Dia berbalik kemudian bertanya padaku. “Kamu ngikutin aku ya?” Aku nyengir sambil melihat buku yang ada di tangannya. “Apa ada yang salah?” Tanyanya lagi.
“Buku itu.” Jawabku sambil menunjuk buku yang ada di tangannya. “Buku ini?” Aku menggangguk. “Boleh nggak aku yang pinjem bukunya? Soalnya, buku itu penting banget untuk menyelesaikan tugasku?” Tanyaku.

Read More
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Rating
0 Comments
By: Hylla Shane Gerhana



Menulislah dengan hati karena hati senantiasa mengerti, menuntun jiwa untuk memberi dan berbagi.

Menulis bukan sekedar menyampaikan ide, informasi atau sejumlah data dan peristiwa. Lebih dari itu, menulis merupakan energi, memerlukan energi dan dapat memberikan energi bagi penulis juga pembacanya. Menulis dengan hati, merupakan energi yang akan membuat sebuah tulisan berkarakter dan natural karena energi yang diperlukan dan digunakan bersumber dari hati penulisnya, sehingga tulisan pun memberikan energi berupa kepuasan dan semangat untuk berkarya bagi penulisnya. Faktanya, sebuah tulisan yang ditulis dengan hati seringkali memberikan energi bagi pembacanya berupa inspirasi yang bisa saja mengubah pola pikir dan caranya bersikap. Semua yang dikukan dengan hati akan menyentuh hati, tertanam di hati dan menjadi energi hati. Lalu darimana datangnya energi menulis, apa saja bentuknya dan sepenting apakah?

Energi menulis, sebenarnya lahir dari hati. Karena itu, menulis dengan hati merupakan energi utama menulis yang akan memberikan energi pada tulisan itu sendiri. Inspirasi tulisan memang bisa muncul dari mana saja, dari serangkaian peristiwa, sekumpulan data, termasuk dari tulisan orang lain. Namun, proses mencipta sesungguhnya merupakan eksplorasi kemampuan individual secara total yang dapat mencerminkan karakter tulisan bahkan penulisnya. Boleh saja ide dasarnya sama, tema dan judulnya sama, tapi tidak akan melahirkan tulisan atau karya yang benar-benar sama persis. Makanya, wajar saja jika saya katakan “mengcopy paste” tulisan orang lain tanpa permisi untuk merupakan tindakan membohongi hati dan tidak percaya diri.


Menurut saya, energi menulis pada setiap orang berbeda-beda, tergantung kepada keinginan, maksud dan tujuan masing-masing penulis. Namun, pada dasarnya energi menulis lahir dari 4 hal yang bersinergi dengan hati kita.



Pertama, kemauan. Kemauan yang kuat akan menumbuhkan tekad yang kuat. Kemauan dan tekad yang kuat merupakan energi yang mampu mengalahkan ketakutan, kemalasan juga rasa ketidakmampuan dalam menulis. Energi ini yang akan menjaga stabilitas dan konsistensi dalam proses menulis, sehingga menghasilkan tulisan yang berenergi.



Kedua, kejujuran hati. Kejujuran hati akan melahirkan ketulusan berkarya, menuntun kita menulis dengan bebas, mengembangkan pemikiran secara orisinil, tanpa beban dan apa adanya. Terlepas dari adanya referensi atau data pendukung, kejujuran hati dalam menulis merupakan fondasi yang akan memberikan energi pada tulisan yang kita buat, sekaligus menjadi energi yang menumbuhkan semangat menulis. Kejujuran hati dalam menulis akan menumbuhkan kejujuran dalam realita etika dan budaya, sehingga jujur dan tulus dalam menulis tidak selalu berlaku pada tulisan-tulisan yang bersifat pribadi seperti menulis diary atau biografi, tetapi juga tulisan-tulisan ilmiah. Kejujuran hati dalam menulis dengan sendirinya akan melahirkan proses memperbaiki dan menyempurnakan tulisan.



Ketiga, keberanian mengungkapkan gagasan atau perasaan, serta keberanian melawan keraguan. Hal ini akan menumbuhkan energi positif berupa kepercayaan diri untuk menulis. Keberanian dan rasa percaya diri akan menuntun kita pada keleluasaan berbahasa dan kebebasan mengeksplorasi data dan kosa kata dalam menulis, sehingga kita tertantang untuk menyuguhkan tulisan terbaik.


Keempat, kepedulian. Kepedulian lahir dari hati dengan melihat sederet kenyataan dan harapan, baik yang kita alami sendiri maupun dialami orang lain. Kepedulian inilah yang memunculkan energi untuk mencari ide tulisan, memproses ide, menuliskannya, hingga menjadi sebuah tulisan yang utuh. Menulis dengan didasari kepedulian akan melahirkan ketulusan dalam menulis. Kepedulian dan ketulusan ini merupakan energi yang dapat melahirkan tulisan yang bersifat problem solving karena kedua hal tersebut menstimulasi rasa ingin membantu atau mengubah keadaan yang tak diharapkan. Dapat dikatakan bahwa kepedulian merupakan bentuk empati penulis terhadap keadaan, kenyataan, pengalaman, pemikiran dan perasaan.

Menulis dengan hati adalah bicara hati yang dapat melahirkan energi untuk hati. Sejelek apapun tulisan sendiri, harus disyukuri karena kita masih bisa menulis, berbagi dan berkreasi, toh masih bisa diperbaiki. Sebaliknya, tulisan bagus dari hasil mengcopy paste (mentah-mentah, bulat-bulat, lengkap sampai titik komanya, kalimatnya sama persis dengan tulisan aslinya, tanpa permisi) tidak akan berarti apa-apa secara batiniah walaupun mendapat pujian. Jangankan kepuasan atau kebanggaan, yang ada malah beban perasaan telah mebohongi hati dan orang lain yang membacanya.
Ya, itu pun kalau yang mengcopy paste menyadari arti menghargai dan mengapresiasi sebuah karya, kalau tidak semua tulisannya bisa-bisa merupakan hasil copy paste dari tulisan orang lain. Mengcopy paste juga harus pakai nurani karena kata nurani lebih jujur dan jauh lebih berarti daripada pujian.
Untuk menghasilkan sebuah tulisan, si penulis memerlukan energi yang tidak sedikit. Kesabaran, pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran serta konsentrasi. Semoga saja para copaster segera menyadari dan memperbaiki kesalahannya.

(Nia Hidayati) : dari hati

Rating
0 Comments
MENULIS PUISI ITU GAMPANG?
 
Oleh Maroeli Simbolon, S.Sn



Bulan di atas kuburan
Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi — tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan samedhi.” Benarkah demikian?

Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi — seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci.
***

Suatu malam, di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah!
Sesekali menyeruput teh manis yang mulai dingin, penyair yang sudah meninggalkan gaya mabok ini menjelaskan, segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran, mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya.

Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair, bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman – yang tidak ada salah atau cacatnya. Lalu, ia menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi.
Serta merta saya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman seniman memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, saya membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi:

Nasi Goreng Es Campur
Pecel Lele Wedang Jahe
Soto Babat Es Jeruk
Ikan Bakar Kopi Susu
Sate Kambing Jus Nenas

Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji ini – dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.
Lebih ekstrem lagi Saut Sitompul, penyair yang baru saja pulang ke haribaanNya, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya:
ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis…

Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna?
Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagi pula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi?
***

Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini:

Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.

Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia.

Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi — tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan.
Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti – toh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati?
Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek.

***

Meski bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap—mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek & Austin Warren, bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi (1993:20). Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.”

Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi. Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya. Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya.
Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek & Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara konstektual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.”

Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta merta dapat dijadikan puisi, melainkan harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JS Tatengkeng.

Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian. Ayo, siapa ikut bergoyang puisi?

Rating
8 Comments
By : Erlinda Jilly Madhan


Thriller atau cerita getaran  dalam bahasa Inggris  adalah sebuah tipe literatur, film dan televisi yang memiliki banyak sub-tipe di dalamnya. Kata tersebut berasal dari kata bahasa Inggris yang dapat diartikan secara bebas sebagai “petualangan yang mendebarkan”. Tipe alur ceritanya biasanya berupa para jagoan yang berpacu dengan waktu, penuh aksi menantang, dan mendapatkan berbagai bantuan yang kebetulan sangat dibutuhkan yang harus menggagalkan rencana-rencana kejam para penjahat yang lebih kuat dan lebih lengkap persenjataannya. (Pusat Bahasa Diknas- Glosarium)

Gimana cara nulis cerita thriller? Simak ya, aku mau bagi-bagi tips cara nulis cerita thriller ala Erlinda Jilly Madhan.

Rating
12 Comments


  1. Setelah satu atau dua gagasan yang baik, duduk dan mulai menulis topik di atas kertas. Biasanya, ide-ide ini berputar di sekitar peristiwa besar, seperti perang atau kematian seseorang. Ajukan pertanyaan sederhana, seperti "mengapa?", "Yang melakukan itu,"? "Ketika,?" "Bagaimana?" dan pergi ke pertanyaan yang lebih rinci seperti "Bagaimana mengubah dunia,?" "Bagaimana hal itu mempengaruhi orang di sekitar?" dan pertanyaan seperti itu. Pada akhirnya, ini akan membuat plot utama, di mana Anda akan fokus peristiwa dari cerita Anda, diikuti oleh peristiwa sekunder lainnya, yang akan membuat tubuh buku ini.

  2. Mulai menciptakan protagonis (s). Bagus, sekarang Anda memiliki beberapa peristiwa besar, yang akan membuat tubuh cerita Anda. Sudah waktunya untuk melanjutkan ke penciptaan protagonis Anda (s). Apakah perempuan atau laki-laki? Apa / perannya dalam cerita itu? Menentukan ciri-ciri utama kepribadian, tanpa pergi terlalu banyak ke detail. Menuliskannya di sebuah kertas. Apakah Anda ingin membuat karakter yang sangat realistis? Ya, aku tahu itu apa yang Anda inginkan. Mari kita simpan itu untuk nanti.

  3. Tentukan di mana kreasi Anda harus hidup. Manusia hidup di Bumi, tetapi di mana karakter Anda tinggal? Untuk saat ini, memutuskan bahwa. Apakah Bumi kita, di alam semesta paralel? Apakah dunia Anda ingin membuat oleh root? Putuskan ini, dan, seperti pada langkah sebelumnya, jangan pergi jauh ke detail. Tulis penguasa dunia Anda, ras orang-orang yang tinggal di sana dll

  4. Ok, sekarang menuliskan semuanya: karakter utama Anda, peristiwa besar, jenis dunia ini, tujuan Anda dengan cerita ini. Mulai sekarang, segala sesuatu yang Anda akan lakukan akan memiliki plot utama sebagai dasar.

  5. Lihatlah plot. Sekarang Anda akan memerlukan beberapa perubahan.
    1. Lihatlah peristiwa besar. Twist itu, model itu, membuatnya merasa dipercaya.
    2. Mulailah mengumpulkan karakter lain. Ini akan membantu protagonis pada / nya pencariannya atau perjalanan. Bukan pahlawan setiap kebutuhan menjadi serigala. Karakter Anda mungkin dingin di hati, tapi itu tidak berarti dia / dia tidak punya keluarga atau teman. Jangan membuat cerita Anda berputar hanya sekitar karakter Anda. Tampilkan perasaan orang-orang di sekitar protagonis Anda dan bagaimana / nya keputusan mempengaruhi mereka. Jangan membuat cerita dari satu orang, tapi cerita tentang perjalanan satu orang.
    3. Gabung peristiwa sekunder lain untuk plot utama. Ini dapat acara pribadi (seperti kelahiran anak, pernikahan, kematian orang tersayang). Dalam satu atau lain cara, ini pada akhirnya akan twist plot dan isi cerita Anda dengan perasaan dan rasa kemanusiaan.
    4. Membuat karakter Anda (s) tumbuh. Sebuah perjalanan panjang melalui dunia, atau pengalaman menjelang kematian, (bahkan jatuh cinta) membuat semua orang tumbuh sedikit. Tentu saja Anda tidak ingin karakter Anda untuk menjadi bisu, atau bodoh. Setelah peristiwa-peristiwa sekunder, membuat perubahan, (halus atau drastis) dengan kepribadian protagonis Anda.
    5. Membuat rintangan dalam kehidupan karakter Anda. Tidak semuanya akan mudah bagi dia / nya. Pastikan Anda sedang menulis sebuah novel fantasi, bukan narasi berjalan-jalan melalui taman. Ingatlah untuk nama karakter Anda.

  6. Sekarang, ambil selembar kertas dan pensil. Saatnya untuk membangun dunia fantasi Anda. Jika Anda menulis tentang sebuah dunia yang, pada kenyataannya, adalah Bumi, mencetak peta penuh dan dengan pensil (atau pena hitam / merah), mulai membuat perubahan ke planet kita tercinta. Jika Anda melakukan ini, melakukan banyak penelitian dalam sejarah untuk melihat apakah Anda dapat menyesuaikan Sejarah Bumi dengan plot buku Anda. Jika Anda berencana untuk membangun dunia dari root, mulai menggambar garis sederhana. Anda dapat membuat lautan, lautan dan danau, pegunungan dan faktor aneh lainnya di dunia Anda. Menarik garis tanah kerajaan dan kekaisaran. Masukan pasca-dan catatan lain di peta Anda untuk menemukan beberapa peristiwa. Ingat: peta Anda tidak harus dibuat dengan baik. Bebas untuk menggunakan bahan-bahan yang Anda suka, dan bersenang-senang!

  7. Rencana kronologi untuk cerita Anda. Hal ini dapat memiliki peristiwa yang muncul dalam buku Anda, atau hanya cerita dari peristiwa lain yang secara tidak langsung akan menjelaskan yang ada di plot Anda. Jangan berpikir itu membuang-buang waktu untuk membangun sebuah dunia yang sebagian besar tidak akan muncul dalam buku. Sangat penting bagi pembaca untuk mengetahui bahwa penulis tahu apa yang dia bicarakan, dan tidak menempatkan hal-hal acak di halaman-halaman buku. Membuat karakter Anda menceritakan legenda atau menyebutkan beberapa hal bahwa Anda harus hati-hati direncanakan keluar. Sebagai penulis, Anda harus tahu sesuatu yang kita lakukan pembaca tidak. Pastikan Anda tahu apa yang Anda bicarakan.

  8. Mulai untuk merencanakan segala sesuatu tentang karakter Anda. Ini adalah waktu bagi Anda untuk pergi benar-benar ke dalam hati karakter utama Anda. Apakah dia / dia punya rasa takut (kematian, kegelapan)? Di mana / kapan dia / dia lahir? Dalam situasi yang? Apakah dia / dia suka menggigit kukunya? Untuk memainkan alat musik, mungkin? Bebas, ini adalah cerita Anda.

  9. Setelah Anda menyelesaikan kronologi dunia Anda, mulai menulis tentang dunia Anda. Apa jenis pakaian melakukan orang memakai? Apakah mereka percaya takhayul? Apakah mereka senang dengan raja mereka / kaisar? Apakah ada jenis akademi mana tentara / penyihir dilatih? Apa aturan kerajaan Anda? Apakah dilarang untuk membunuh / menggunakan sihir? Apakah mereka memiliki aturan tertentu dalam sebuah keluarga? Bisakah wanita dalam perang melawan juga, atau itu hanya untuk pria? Apakah ada makhluk fantasi setiap berkeliaran di dataran dunia Anda? Apakah orang-orang percaya pada dewa-dewa? Dan siapa dewa-dewa mereka? Sudah waktunya untuk merencanakan semuanya. Ini mungkin akan menjadi langkah terbesar dalam cerita Anda. Dasar akan berada di sini. Segala sesuatu yang Anda akan datang dengan kebutuhan untuk berada di sini. Jangan khawatir jika Anda terlalu lama menulis semuanya. Sebuah cerita yang baik harus memiliki dasar yang solid.

  10. Setelah langkah terakhir, semoga, akan tahu apa yang akan terjadi dalam cerita Anda. Ambil selembar kertas Start untuk membuat bab dari cerita Anda.. Tentukan apa jenis penulis Anda akan. Apa yang akan menjadi panjang bab Anda dan buku (s)? Anda akan menulis dalam orang ketiga atau pertama? Apakah Anda menggambarkan karakter Anda dan sekitarnya untuk membuat cerita yang lebih pribadi untuk pembaca atau Anda tidak akan peduli, dan hanya ingin membuat legenda epik? Tulis interaksi karakter. Membuat salinan dari peta dunia dan menarik garis-garis perjalanan karakter Anda. Membuat referensi cepat untuk masing-masing lokasi sehingga Anda akan menjelaskan lebih terbuka. Jangan takut untuk membuat dan merencanakan.

  11. Biarkan orang lain membaca karya Anda. Mencetak produk jadi Anda dan tangan keluar beberapa salinan kepada orang-orang yang mungkin menikmati membaca novel Anda. Hal ini dapat hanya beberapa teman dekat pada awalnya, tetapi sekali Anda mulai mendapatkan kritik yang baik dan Anda mulai membangun kepercayaan diri, Anda mungkin ingin mempertimbangkan untuk mencoba mempublikasikan . Menerima kritik, karena mereka akan membuat Anda menjadi penulis yang lebih baik di masa depan. Memperbaiki apa pun bahwa editor Anda memberitahu Anda. Percayalah bahwa Anda dapat diterbitkan jika Anda menempatkan pikiran untuk melakukannya. Tapi cobalah untuk tidak berharap terlalu kuat untuk buku Anda yang akan diterbitkan, untuk Anda bisa berakhir sangat tertekan jika semua tidak pergi ke rencana. Jika pekerjaan Anda ditolak oleh seorang editor, mengedit cerita atau mengirimkannya ke sebuah penerbit yang berbeda.Sumber: www.wikihow.com/Write-a-Credible-Fantasy-Story (google terjemahan)
Rating
0 Comments
 Cara Jitu Menulis Cerpen (2)

Menulis Kilat Dengan Metode Merekam.

Banyak penulis (termasuk saya) awalnya merupakan seorang yang sangat merasa kesulitan menulis artikel apalagi yang temanya sudah di atur-atur. Pernah suatu kali ada kompetisi menulis artikel di media massa yang melibatkan ribuan mahasiswa. Artikel itu hanya akan memuat dua artikel setiap hari dengan tema yang sebelumnya sudah ditentukan, waktu itu temanya pendidikan. Dua kali saya kirim artikel itu tidak dimuat alias di tolak. Segera saya temukan kelemahan saya, ternyata saya tidak memiliki argument yang lebih baik untuk mendukung naskah artikel tersebut.

Kemudian saya mencari akal, saya menemui seorang senior yang paling jago dalam hal diskusi dan saya mengajaknya berbincang-bincang tentang pendidikan. Harus saya akui ia amat menarik bicaranya dan kosakatanya luas. Sejam kemudian saya membaca ulang catatan kecil hasil diskusi sambil mengingat perkataannya yang masih terekam dalam ingatan saya. Sebentar kemudian jadilah dua artikel. Kemudian saya kirim dua-duanya, satu pake nama teman. Dua-duanya dimuat. Dari itulah saya menemukan satu metode bagus untuk belajar menulis.

Rating
0 Comments
Cara Jitu Menulis Cerpen (1)

Oleh : Liga Alam M

Kenapa Kita Menulis?
Pertanyaan ini merupakan kunci motivasi seorang penulis. Untuk apakah kita menulis? Mari kita simak jawabannya melalui sebuah kisah nyata di bawah ini. Usianya masih sangat muda, 13 tahun. Kala itu bulan Juni 1942, pertama kalinya ia menulis dalam buku diarinya. Beberapa bulan kemudian, bersama orangtuanya, ia bersembunyi di sebuah loteng gelap karena sedang diburu oleh rasisme Nazi yang sedang ganas-ganasnya. Seringkali ia mendengar suara deru pesawat tempur dan rentetan senjata api yang mengawang di atas Secret Annex itu.

Untuk mengisi hari-hari panjangnya di tempat persembunyian tersebut dan untuk mengatasi rasa takutnya, ia mencurahkan segala perasaannya dalam sebuah buku diari, catatan harian, yang dikemudian hari mengatarkannya menjadi seorang ‘pengisah sejati’ yang terkenal di seluruh dunia. Gadis itu bernama Anne Frank.

Aku berharap, demikian ia mengawali tulisannya pada diarinya yang diberinya nama Kitty, aku bisa mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan pada siapapun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.

Berbulan-bulan ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui dunia luar. Namun ia terus saja menulis, “…aku suka menulis, banyak hal yang terlampau menIk dan luar biasa dalam hatiku, akan aku tumpahkan lewat tulisan. Kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia.”
Pada bulan April 1944 ia curhat pada diarinya bahwa ia rindu ingin sekolah lagi, Andai perang tidak juga berakhir bulan September, aku tidak akan kembali ke sekolah… Memang Anne Frank tidak pernah lagi melanjutkan sekolahnya hingga akhir hayatnya.

Rating
0 Comments

By: Lilyani Husain


1.    Menulislah langsung ketika sebuah ide muncul di kepalamu. Kalau sedang berhalangan untuk menulis secara langsung (laptop drop dan lagi nggak bisa ngecharge karena listrik mati, atau sedang berada di jalan tapi ide itu muncul tiba-tiba), rangkailah ide cerita itu di dalam kepala dengan menciptakan sebuah panggung pertunjukan, siapkan seting tempat dan tokohnya, lalu buatlah alur ceritanya.

2.    Bagaimana kalau ide itu tiba-tiba muncul di saat yang benar-benar sedang sibuk, saat sedang rapat dengan pimpinan misalnya? Buatlah, sebuah catatan kecil di selembar kertas, atau di buku catatanmu, di halaman paling belakang dan bukalah nanti setelah keluar dari ruang rapat.

3.    Biasanya, ketika memiliki ide dan langsung ingin di tuangkan, ada saja kendalanya. Ide yang tiba-tiba hilang, dipanggil Ibu, disuruh ini-itu, dan lain-lain. Lalu, pelan-pelan ide itu hilang dan tak bisa ditulis lagi, sudah mentok. Maka cara yang biasa kulakukan adalah : duduk menghadap ke laptop, main game, merefresh otak dan menyegarkan pikiran. Atau duduk minum teh hangat atau milo hangat. Di saat sedang refresh seperti itu, kadang-kadang ide yang hilang suka mengintip dari jauh dan berharap untuk di cari-cari. Ketika dia merasa tidak diperdulikan, dia akan muncul kembali di hadapanmu.

4.    Stop! Tak ada ide lagi, idenya habis di tengah jalan dan tidak tahu ceritanya mau di bawa kemana. Maka berhentilah menulis cerita itu, endapkan saja dulu, seminggu, dua minggu atau sampai kau teringat bahwa kau punya tulisan yang masih terpending. Biasanya, dalam keadaan seperti itu, ide-ide baru akan bermunculan atas kemunculan ide lama yang sudah diendapkan. Dan biasanya lagi, setelah mengalami pengendapan beberapa lama dan membaca kembali, setelah itu kesalahan-kesalahan kecil yang terlewat di awal menulis cerita, akan terlihat sangat besar, dan itu menjadi kesempatan untuk memperbaiki tulisan kita.
Rating
1 Comments



PENGERTIAN SKENARIO
Pengertian mengenai Screenplay atau Skenario menurut Syd Field dalam bukunya The Foundations of Screenwriting adalah :
”A screenplay is a story told with pictures, in dialogue and description, and placed within the context of dramatic structure. A screenplay is a noun – it is about a person, or persons, in a place or places, doing his or her or their thing. All screenplays execute this basic premise. The person is the character, and and doing his or her thing is the action. (1994:8).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa skenario itu adalah sebuah naskah cerita yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, keadaan, dan dialog, yang disusun dalam konteks struktur dramatik. Seorang penulis skenario dituntut untuk mampu menerjemahkan setiap kalimat dalam naskahnya menjadi sebuah gambaran imajinasi visual yang dibatasi oleh format pandang layar bioskop atau televisi. Adapun fungsi dari skenario adalah untuk digunakan sebagai petunjuk kerja dalam pembuatan film.

TEKNIK PENULISAN SKENARIO :

1. Inti Cerita

Tahap awal dalam penulisan skenario adalah menetukan inti cerita yang akan dikembangkan menjadi sebuah skenario. Dalam inti cerita ini kita sudah mempunyai gambaran singkat tentang plot, karakter utama, maupun setting dari cerita. Inti cerita ini bisa berasal dari ide/inspirasi yang kita temukan baik dalam imajinasi atau fenomena keseharian kita. Banyak juga penulis skenario yang mengadaptasi novel, cerpen, atau puisi untuk dikembangkan menjadi skenario.
Inti cerita dari film Romeo and Juliet, misalnya, adalah percintaan antara dua orang anak manusia yang berasal dari latar belakang keluarga yang berlawanan yang pada akhirnya melahirkan tragedi.
  1. Sinopsis
Sinopsis adalah ringkasan cerita yang akan dikembangkan menjadi skenario. Pada umumnya Sinopsis ditulis semenarik mungkin dengan maksud menggoda pembacanya untuk membaca skenario dari sinopsis tersebut. Panjang sinopsis biasanya dari setengah sampai dua halaman. Sebagai contoh, kita dapat membaca sinopsis dari film-televisi Gadis Misterius berikut ini :
“Kisah roman-tragedi tentang seorang pelukis muda yang terobsesi pada gadis cantik yang pernah dilihatnya di tepi jurang. Obsesinya itu menjadi kenyataan ketika dia berkenalan dengan Lilis, resepsionis di sebuah kafĂ© yang mempunyai wajah sangat mirip dengan wanita impiannya itu. Cerita kemudian berkembang setelah wanita yang dicintainya itu pun tiba-tiba menghilang dan dia dipaksa untuk menerima kenyataan-kenyataan yang sangat tidak masuk di akal. Lilis yang telah dipacarinya itu, ternyata telah meninggal jauh sebelum mereka pertama kali berkenalan. Kenyataan-kenyataan yang aneh tersebut justru mendorongnya untuk melakukan penyelidikan sampai kemudian dia menemukan jawaban yang sesungguhnya.”
Rating
0 Comments
Membuat kalimat pembuka sebuah cerpen memang susah.Buktinya ya aku ini.Bisa berjam-jam untuk membuat kalimat pembuka yang pas.
Bagaimana cara membuat kalimat pembuka yang baik,nih dia dari guru saya Bapak Joni Lis Efendi
Hal yang perlu diperhatikan saat membuat kalimat pembuka cerpen:
1) Mulai dengan kalimat dinamit (ledakan), mengagetkan, menyentak dan membuat rasa penasaran.
2) Langsung masukan kata judul dalam kalimat pembuka.
    Contoh: judul "Mata Pelangi"
Kalimat pembukanya: Mata pelangi gadis itu kini tak lagi bercahaya.
3) Kalimat aktif, tidak pasif. Contoh kalimat aktif: Tatap matanya "menusuk" sampai ke ulu hatiku

. (perhatikan kata kerja aktif dalam tanda petik)
Contoh kalimat pasif: Rantang itu telah "dipinjam" Mbak Phoe selama 2 bulan, tapi tak kunjung "dikembalikan". (perhatikan kata kerja pasif dalam tanda petik)
4) Idealnya kalimat pembuka 10-12 kata. Kalau terlalu panjang akan mengaburkan maknanya.
5) Gunakan kalimat narasi yang hidup atau dialog yang lugas.
Contoh kalimat narasi: Ucapannya menyayat-nyayat hatiku.
Contoh kalimat dialog: "Apa kau sadar, kau hanya anak buangan di rumah ini."
6) Hindari menggunakan kalimat deskripsi, contoh: Matahari bersinar terik di angkasa raya. Burung-burung berkicau merdu. Anak sungai terrdengar riaknya yang lembut, dst.
7) Hindari penggunaan kata keterangan waktu atau tempat.
Contoh keteranan waktu: Di pagi ini, matarahri bersinar lembut, membangunkan alam yang trelelap dari mimpi semalam.
Contoh keteranan tempat. Di rumah ini, tidak ada seorang pun yang mengerti tentang perasaanku.
8) Langsung libatkan tokoh cerita dalam kalimat pembuka.
Contoh: Tatapan gadis itu membekukan setiap langkah kakiku.
Nah itu dia tipsnya kalau masih bingung silahkan mendaftar di menulis online.